Rabu, 01 September 2010
ARMADA BAND
Hits tersebut cukup mendapatkan tempat di hati para pecinta musik Indonesia,terbukti berhasil menduduki posisi bergengsi di banyak radio di seluruh Indonesia,dengan periode yang cukup lama.hal ini di karenakan karakter band ARMADA yang begitu kuat dan menyuguhkan aliran music yang Berbeda.
Aliran music yang diusung oleh Armada adalah "Melancholic Pop".Aliran ini di bangun oleh karakter suara sang vokalis dan aransemen music yang begitu terasa melancholic dengan sentuhan musik yang banyak di pengaruhi oleh band - band legendaris dunia seperti The Beatles ,Queen,The Police dan band legendaris dunia lainnya.
Band ini dimotori Andith (DRUM), Rizal (VOCAL), Endra' (BASS), Mai (GUITAR) dan Radha (GUITAR). Tahun 2009, Armada band merilis album kedua 'Hal Terbesar' dengan single andalan 'Buka Hatimu'. (emjhie)
Apakah benar Kertas Band yang sempat naik daun berubah nama? sebenarnya info ini saya dapat dari beberapa temen-temen blog. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas minatnya terhadap tulisan tentang Band Kertas di blog saya, tapi jadi biar lebih up date saya buatin thread baru. tapi tulisan ini bukan asli tulisan saya tapi dari temen-temen yang memberikan comment2 buat band kertas seperti mas Aribowo Sangkoyo seperti yang kutipannya mengenai perubahan nama band kertas :
Band Kertas adalah salah satu band yang bersinar dari Palembang, lagunya yang berjudul Kekasih yang tak dianggap menjadi hits hampir di semua pelosok Indonesia. Namun apa yang terjadi, band ini sama sekali tidak pernah merasakan hasilnya. Permasalahan yang bisa dibilang sangat klise ini, memang sering terjadi di Indonesia, Sebuah Label baru yang tidak tahu cara bekerja dengan baik memberikan janji-janji belaka terhadap musisi-musisi Indonesia yang mungkin untuk menembus Major label agak susah dikarenakan koneksi yang kurang kuat atau letak geografis yang jauh dari ibukota. Akibatnya lagu yang bagus terbuang percuma tanpa hasil. Dari Pihak personil band ini sudah mencoba untuk berunding dengan pihak label dan manajemen yang kebetulan satu atap, mereka meminta penjelasan atas semua tindakan yang telah dan akan dilakukan, seperti meminta laporan royalti dan pembayaran, fee dari show2 yang telah dilakukan namun tidak jelas kemana mengalir uangnya, rencana promosi yang tidak jelas, sampai kepada penggunaan lagu lagu dari Grup Band KERTAS tanpa seijin pencipta. Hal ini masih terjadi sampai sekarang, baru2 ini ada penayangan sebuah sinetron dengan soundtrack dari salah satu lagu KERTAS, dan penciptanya sama sekali tidak mengetahui apa2. Sedikit mendengar selentingan sampai labelnya memalsukan tanda tangan penciptanya.
Akhirnya band KERTAS mencoba untuk menyelesaikan perjanjian mereka dengan pihak label secara baik2, alhasil pihak label meminta ganti rugi sebesar 350 juta rupiah tanpa ada dasar yang jelas. Setelah melalui perundingan yang alot, pihak label akhirnya menggunakan jalur hukum dan mengadakan somasi terhadap Band KERTAS. Para personil band ini merasa ketakutan sekali jika harus berhadapan dengan hukum. Yang sangat membuat rumit masalahnya adalah Band KERTAS ini bukan dari kalangan orang yang berada, lagi2 orang kecil yang selalu ditindas dan akhirnya mendapatkan bantuan dari salah satu teman mereka di Palembang.
Pihak label semakin menggila dan meningkatkan tuntutan menjadi 1,3 milyar dengan anggapan mereka sudah dan akan merugi jika perjanjian batal. Sampai sekarang pun perkara ini masih berjalan di pengadilan negeri Jakarta Selatan, dengan pihak pembela Band KERTAS Pengacara Adnan Assegaf yang rela tidak dibayar sepeser pun karena merasa simpatik. Setelah dipertimbangkan cukup matang, dengan satu alasan yang kuat yaitu: jika harus sampai selesai dulu perkaranya dan baru merilis album lagi, mereka tidakdapat hidup. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengganti nama menjadi ARMADA dan terpaksa merubah formasi bandnya dikarenakan salah satu personilnya tidak kuat lagi menahan beban pikiran masalah ini. Terdengar sangat tragis memang, tapi ini kenyataan yang terjadi, mereka harus memulai dari awal lagi, dan hanya mencoba bertahan saja di Jakarta. Dibantu oleh Universal Music Indonesia untuk merilis album perdana dari Grup ARMADA ini.
Jika teman2 bisa merasakan juga, mungkin ini hanya salah satu dari sekian banyak musisi indonesia yang tertimpa masalah seperti ini. Atas kejadian ini saya memohon untuk perusahaan rekaman liar yang sekiranya belum begitu mengerti industri ini, Jangan membuat sengsara hidup orang lain! Dan untuk para musisi baru hendaknya selalu mengikuti perjalanan bisnis musik ini agar bisa meng-antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
Kertas kemudian melejit menjadi salah satu band yang diperhitungkan di Palembang. Beberapa festival mereka ikuti dan hasilnya tidak mengecewakan. Dari beberapa prestasi yang mereka raih yakni, Rizal dinobatkan sebagai The Best Vocalist Festival Cyberb Tech Universitas Bina Dharma 2004 dan juga jadi finalis 3 Besar Dream Band 2005 untuk Daerah Jakarta dan Bandung.
Seiring dengan prestasi yang diraih, cukup banyak tawaran manggung. Sampai suatu ketika, saat mereka manggung di satu daerah di Sumatera, seorang produser dari Jakarta menawari mereka untuk rekaman album dan hijrah ke Jakarta.
Tawaran itu langsung mereka terima dan mereka pun ‘terbang’ ke Jakarta. Mereka merilis album perdana bertajuk “Kekasih Yang Tak Dianggap” pada November 2006 yang membuat band ini mendadak ngetop di blantika musik Indonesia. Penggarapan album perdana ini banyak dibantu musisi senior seperti Adith The Fly, Benny Vena, Ian Protonema, Heydie Ibrahim eks Power Slaves, DD Crow Roxx, dan Andy Juliet.
Euforia rekaman album perdana tersebut, membuat personel KERTAS Band terlena. Kontrak album tidak dipelajari dengan seksama, termasuk soal royalti dan pembagian honor manggung. Alhasil, ketika kemudian muncul pertanyaan soal itu, label “berkilah” sudah diatur semua di kontrak.
Kini, sembari menjalani proses hukum yang terjadi dengan label lamanya, anak-anak KERTAS Band mencoba “lahir” baru. Diawali dengan perubahan nama menjadi ARMADA Band. Sayangnya, karena “stres” lantaran menghadapi persoalan hukum, Argha memilih kembali ke Palembang. “Dia sedih banget, sampai akhirnya pilih balik ke Palembang,” jelas sang drumer, Andhit.
ARMADA langsung masuk ke manajemen baru. Tentu belajar dari pengalaman, kini mereka lebih berhati-hati membaca kontrak dan semua perjanjian yang menyangkut nasib band ini. “Kita sadar kok, kalau dengan ini artinya kita kembali lagi ke awal atau nol lagi,” kata Rizal. (sumber: hariansumutpos.com)
Minggu, 18 April 2010
SEINDAH SENTUHAN KASIH ( REVISI )
Pagi ini terasa begitu cerah, matahari bersinar dengan bangganya, bunga- bunga bermekaran dan burung- burung mulai bernyanyi dengan suara merdunya. Dengan langkah pelan tapi pasti, ku langkahkan kakiku menuju Sanggar Seni Kasih Bunda yang dikelola oleh ibuku. Langkah kecil kaki ku membawaku ke tempat yang aku tuju. Dengan semangat yang besar, kuarungi berhektar- hektar area kebun teh yang ada di lereng bukit, melihat hijaunya daun teh, hatiku terasa sejuk. Tanpa kusadari, ternyata aku sudah sampai di Sanggar.
“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab teman- temanku yang tengah berlatih tari tradisional.
“Eh... Mbak Nilam, baru jam 8 kok sudah kesini?” tanya Sari, salah seorang pelatih sanggar seni ini.
“Iya nih, kok tumben ya aku datang ke sanggar ini pagi- pagi sekali!”
“Oh ya mbak, tadi ada seseorang yang mencari mbak Nilam, katanya sih ada sesuatu yang ingin dibicarakan!”
“Siapa?”
“Ehmm...siapa ya?”
“Masak kamu nggak tahu sih,”
“Aku tahu, tapi sayangnya aku lupa!”
“Lupa?”
“Oh...sekarang saya ingat, kalau nggak salah namanya Raka!”
“Raka?”
“Memangnya mbak kenal sama orang yang namanya Raka?”
“Ehmmm, kayaknya sih aku pernah dengar nama itu, tapi dimana ya?”
“Yah, mbak Nilam itu bagaimana sih, nama Raka kan banyak yang punya!”
“Oh iya ya!”
“Tapi orang tadi berpesan, kalau mbak mau ketemu sama dia, mbak Nilam pergi saja ke danau yang lokasinya nggak jauh dari kebun teh!”
“Aku sih ogah nemuin orang yang belum aku kenal, tapi kalau emang bener- bener penting gimana?”
“Mbak Nilam temuin aja!”
“Ehmmm, ya deh, daripada nanti nyesel!”
Aku pun segera pergi meninggalkan Sanggar, aku masih penasaran dengan orang yang namanya Raka itu.
* * *
Aku masih menyusuri kebun teh yang asri di lereng bukit yang tadi aku lewati, hanya saja arahnya yang berbeda. Di sepanjang perjalanan, hanya nama Raka yang ada di kepalaku. Kenapa nama itu sudah tidak asing lagi bagiku, kenapa saat aku mendengar nama itu, hatiku tersentak. Apakah karena aku pernah mengenal orang yang namanya Raka atau apakah memang benar itu hanya firasatku saja.
“Ya Allah, sebenarnya apa yang aku rasakan ini, kenapa aku merasakan ada sesuatu yang beda padaku?” batinku dalam hati.
* * *
Sesampainya di danau yang tadi dikatakan Sari, aku tidak melihat ada satu orang pun yang berada di danau itu. Aku pun berteriak memanggil nama Raka, aku pikir mungkin dia ada di dekat sini.
“Raka...Kamu dimana? Ini aku, Nilam!” teriakku dengan keras.
Karena tidak mendapat jawaban, aku pun duduk di sebuah kursi tua di pinggir danau.
“Raka...kamu dimana? sebenarnya apa mau kamu?” ucapku pelan.
Tak lama kemudian, ada seorang laki- laki menghampiri aku.Aku pun tersentak kaget, siapa orang itu dan kenapa dia menghampiri aku, apakah dia Raka?
“Hai, Nil!” sapanya.
“Kamu siapa?”
“Aku...”
“Raka?” ucapku pelan.
“Sorry aku bukan Raka, aku Dimas, sahabat Raka!” katanya pelan.
“Dimas? Tapi tadi kamu bilang kan kamu Raka?”
“Nilam, maafin aku ya! Aku nggak mau kamu tahu siapa aku, aku hanya ingin menyampaikan suatu amanat dari sahabatmu Raka,”
”Maksud kamu apa? Kenapa kamu ngomomng gini sama aku?”
“Nilam, kamu masih ingat kan sama Raka?”
“Raka? Siapa Raka?”
“Kamu ini kenapa, Lam, kenapa kamu bisa lupa sama Raka, sahabat kamu sendiri? Tapi kamu inget kan sama aku?”
“Kenal sama kamu, gimana caranya aku bisa kenal sama kamu kalau kita saja baru ketemu hari ini?”
“Jadi kamu emang nggak kenal sama aku?”
“Ya iyalah, kenal darimana coba?”
“Kamu ini kenapa, Nil?”
“Kenapa apanya?”
“Ya kenapa kamu bisa lupa sama Raka, aku dan mungkin juga temen- temen kamu yang lain”
“Kamu ini kenapa sih, Dim? Kenapa kamu kayak maksa gitu sama aku,”
“Nggak! Nil, bukan itu maksud aku, aku Cuma mau kamu tahu aja kalau dulu kamu pernah sahabatan sama orang yang namanya Raka! Klau kamu nggak percaya, lihat foto ini!” pinta Raka, sambil melihatkan foto yang ia bawa.
Aku pun segera menatap foto yang Dimas maksud.
“Aduh, kepalaku pusing!”
“Kenapa, Nil?”
”Dim, sebenarnya apa yang terjadi sama aku, kenapa kepelaku terasa pening?”
“Memang kamu itu kenapa, kenapa kamu bisa lupa sama aku dan Raka?”
“Dulu, sekitar 1 tahun yang lalu aku pernah kecelakaan, dan kecelakaan itulah yang merubah hidupku!”
”Jadi kamu lupa sama aku bukan karena kamu sudah lupa sama aku, tapi karena kamu amnesia?”
“Yah seperti itulah kebenarannya!”
Tapi tak tahu kenapa aku menjadi terbayang- bayang masa laluku. Aku teringat akan suatu hal yang dulu pernah aku jalani.
* * *
Malam itu terasa gelap gulita, seperti tanpa sinar rembulan. Ku torehkan sebuah tulisan diatas buku, karena terlalu banyak PR yang harus ku kerjakan. Hari sudah malam jam sudah menunjuk ke angka 11, segera ku baringkan tubuhku ke atas ranjang. Aku berharap, semoga aku bisa bangun lebih awal agar aku bisa mengerjakan tugas untuk persiapan Baksos.
Pagi telah tiba, segera kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat, segera kukerjakan tugas untuk persiapan Baksos. Setelah selesai mengerjakan tugas, aku segera mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah. Karena hari ini adalah hari pelakanaan Baksos dan aku adalah wakil OSIS aku harus segera berangkat ke sekolah untuk menyiapkan semuanya agar pelaksanaan Baksos kali ini bisa berjalan dengan lancar.
* * *
Sesampainya di sekolah ( SMAN 14 Bandung ), aku langsung berjalan menuju ruang pertemuan OSIS. Dan aku tersentak kaget ketika aku melihat teman- temanku sesama pengurus OSIS sudah duduk manis di kursi masing- masing. Ku lihat satu bangku yang kosong, dan bangku itu adalah bangkuku.
“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab mereka serentak.
“Maaf teman- teman, aku terlambat!”
“Nggak apa- apa, Nil!” jawab Dimas, Ketua OSIS di sekolahku.
“Kalian nggak marah sama aku?”
“Ngapain harus marah, kan kamu Cuma telat 1 menit!” jawab Dimas lagi.
“Makasih ya!”
“Sama- sama, ayo duduk, kita akan segera memulai meeting kita!”
“Ok! Sekarang saya akan mempresentasikan hasil tugas yang sudah saya rangkum!”
“Silakan!”
“Terima Kasih! Teman- teman, acara bakti sosial kali ini akan kita laksanakan di sebuah sekolah kecil di perkampungan dekat Pasar Baru. Untuk menunjang pelaksanakan bakti sosial kali ini, dibutuhkan biaya sekitar Rp 5.000.000,00¬- untuk membeli peralatan sekolah, seperti buku, pen, pensil, penghapus, black board, dan yang lainnya. Dan menurut catatan dalam buku keuangan, uang yang terkumpul baru Rp 2.457.000,00-, jadi saya berharap ada salah seorang relawan yang mau menyumbangkan sebagian hartanya untuk melengkapi kekurangannya.”
“Tapi siapa, Nil?” tanya Kevin.
“Saya yang akan menambah kekurangan biaya untuk acara Baksos kali ini,” suara itu keluar dari mulut seorang lelaki yang duduk di depanku.
“Raka...! kamu yakin?” kagetku.
“Iya, saya yakin!”
“Alhamdulillah, rupanya masih ada orang yang sebaik Raka!”
Setelah semua biaya terkumpul, kita segera menuju ke tempat yang sudah kita rencanakan.
* * *
Sesampainya di sekolah kecil yang dimaksud, kita segera masuk dan memberikan sebuah peralatan sekolah untuk menunjang keberhasilan dari sekolah kecil tersebut.
“Terima kasih, mbak! semoga apa yang mbak kasih bisa bermanfaat bagi anak- anak disini!” kata salah seorang pengajar di sekolah kecil tersebut.
“Sama- sama, bu!” jawab Artini, bendahara OSIS.
Setelah lama kita ngobrol dengan para pengajar dan murid- murid di sekolah kecil itu, kita berpamitan pulang.
“Bu, kita pulang dulu ya!”
“Iya, neng. Saya berharap semoga tuhan membalas kebaikan kalian semua!”
“Aminnnnnnnnnnnnnnnnnn!”
“Wah, aminnya kok sepanjang rel kereta api jurusan Singapura sih?”
“Ah ibu, sukanya bercanda aja! mana ada sih kereta jurusan Singapura?” jawabku.
“Kami pulang dulu ya, bu?” pinta Beno, bendahara OSIS.
“Sekali lagi terimakasih ya, dek!”
“Ya, bu, sama- sama!”
* * *
Aku pun segera terbangun dari lamunanku, aku baru sadar kalau dulu aku pernah mengenal sosok seorang Raka.
“Dim, tolong sampaiin maaf aku untuk Raka ya! Aku nggak tahu kalau dulu kamu dan Raka pernah jadi temen aku!”
“Oh,i i iya!”
“Sudah, Cuma itu aja ya yang mau kamu katakan padaku?”
“Oh, nggak masih ada, tapi aku minta kamu nggak marah ya, kalau aku kasih kamu sesuatu,”
“Ya nggaklah, ngapain harus marah, kan niatnya baik!”
“Ini untuk kamu,”
“Apaan nih?”
“Ini surat terakhir yang dibuat Raka untuk kamu,”
“Aku baca ya?”
“Baca aja!”
Akupun segera membaca surat yang diberikan Dimas padaku.
Dear my best Friend, Nilam
Nilam, andai kau tahu segenap rasa sayangku padamu, sesuci perasaankuku padamu, dan seputih rangkaian kasih untukmu. Aku tahu kamu pasti sedih setelah membaca surat ini, tapi apa daya aku harus jujur.
Ku tuliskan sebuah puisi untukmu, segenap rasa sayangku untukmu hanya kau anggap sebatas seorang sahabat, tapi tidak untukku, kamu jauh lebih berharga dari apapun yang aku miliki. Jauh di lubuk hatiku aku memendam perasaan ini, tapi di relung hatiku aku tak mau membuat hatimu terluka karena diriku.
Aku berharap kamu akan terus menyimpan surat ini sampai kapanpun, karena aku akan pergi jauh darimu.Jika kau terluka setelah membaca surat ini, bakarlah surat ini karena aku yakin kamu akan jauh lebih baik dari sekarang ini.
Seharusnya dulu aku tidak meninggalkanmu sendiri, pasti persahabatan kita akan jauh lebih baik dan karna perasaanku yang tidak menentu ini kau jadi hancur.
I WILL ALWAYS MISS YOU In MY WORLD
Your best Friend
Raka
Setelah selesai membaca surat dari Raka, hatiku tersentak kaget. Aku tak pernah tahu apa maksud Raka memberiku surat itu.
“Dim, apa maksud dari surat ini, jujur aku nggak tahu apa maksudnya?”
“Kamu tahu kan kalau kamu itu pernah dekat sama Raka, dia itu menganggapmu lebih dari seorang sahabat. Tapi sebuah kecelakaan yang terjadi pada tanggal 18 Agustus 2008 merenggut semua perasaan yang ia simpan selama itu, jadi sekarang kamu tahu kan pa maksud dari surat itu?”
“Sekarang aku tahu apa yang selama ini dirasakan Raka, aku tahu kalau selama ini dia suka sama aku!”
Dimas pun segera pergi meninggalkanku sendiri di danau itu.Aku pun juga segera bergegas pulang, dengan perasaan yang nggak pernah aku rasain selama aku hidup.
Aku berjanji kalau aku akan selalu menjadi yang terbaik untuknya. Tapi aku akan berusaha mengubur semua bayangnya dan cerita tentang dirinya. Karena aku yakin, masa depanku akan jauh lebih cerah. Sekarang aku bisa hidup lebih tenang tanpa bayang- bayang Raka.
Rabu, 07 April 2010
SEINDAH SENTUHAN KASIH ( SIKLUS 3 )
Pagi ini terasa begitu cerah, matahari bersinar dengan bangganya, bunga- bunga bermekaran dan burung- burung mulai bernyanyi dengan suara merdunya. Dengan langkah pelan tapi pasti, ku langkahkan kakiku menuju Sanggar Seni Kasih Bunda milik ibuku. Langkah kecil kaki ku membawaku ke tempat yang aku tuju. Dengan semangat yang besar, kuarungi berhektar- hektar area kebun teh yang ada di lereng bukit, melihat hijaunya daun teh, hatiku terasa sejuk. Tanpa kusadari, ternyata aku sudah sampai di Sanggar Seni Kasih Bunda.
“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab teman- temanku yang tengah berlatih tari tradisional.
“Eh... Mbak Nilam, baru jam 8 kok sudah kesini?” tanya Sari, salah seorang pelatih sanggar seni ini.
“Iya nih, kok tumben ya aku datang ke sanggar ini pagi- pagi sekali!”
“Oh ya mbak, tadi ada seseorang yang mencari mbak Nilam, katanya sih ada sesuatu yang ingin dibicarakan!”
“Siapa?”
“Eh...siapa ya?”
“Masak kamu nggak tahu sih,”
“Aku tahu, tapi sayangnya aku lupa!”
“Lupa?”
“Oh...sekarang saya ingat, kalau nggak salah namanya Raka!”
“Raka?”
“Memangnya mbak kenal sama orang yang namanya Raka?”
“Ehmmm, kayaknya sih aku pernah dengar nama itu, tapi dimana ya?”
“Yah, mbak Nilam itu bagaimana sih, nama Raka kan banyak yang punya!”
“Oh iya ya!”
“Tapi kalau mbak Nilam mau nemuin orang itu, mbak Nilam pergi saja ke danau dekat kebun teh!”
“Aku sih ogah nemuin orang yang belum aku kenal, tapi kalau emang bener- bener penting gimana?”
“Mbak Nilam temuin aja!”
“Ehmmm, ya deh, daripada nanti nyesel!”
Aku pun segera pergi meninggalkan Sanggar, aku masih penasaran dengan orang yang namanya Raka itu.
* * *
Aku masih menyusuri kebun teh yang asri di lereng bukit yang tadi aku lewati, hanya saja arahnya yang berbeda. Di sepanjang perjalanan, hanya nama Raka yang ada di kepalaku. Kenapa nama itu sudah tidak asing lagi bagiku, kenapa saat aku mendengar nama itu, hatiku tersentak. Apakah karena aku pernah mengenal orang yang namanya Raka atau apakah memang benar itu hanya firasatku saja.
“Ya Allah, sebenarnya apa yang aku rasakan ini, kenapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda padaku?” batinku dalam hati.
* * *
Sesampainya di danau yang tadi dikatakan Sari, aku tidak melihat ada satu orang pun yang berada di danau itu. Aku pun berteriak memanggil nama Raka, aku pikir mungkin dia ada di dekat sini.
“Raka...Kamu dimana? Ini aku, Nilam!” teriakku dengan keras.
Karena tidak mendapat jawaban, aku pun duduk di sebuah kursi tua di pinggir danau.
“Raka...kamu dimana? sebenarnya apa mau kamu? kenapa kamu mempermainkan aku seperti ini?” ucapku pelan.
Tak lama kemudian, ada seorang laki- laki menghampiri aku.Aku pun tersentak kaget, siapa orang itu dan kenapa dia menghampiri aku, apakah dia Raka?
“Hai, Nil!” sapanya.
“Kamu siapa?”
“Aku...”
“Raka!” ucap kita bersamaan.
“Jadi bener, kamu yang mencari aku di Sanggar Seni Kasih Bunda?” tanyaku pelan.
“Iya, gimana kabar kamu?”
“Sebentar- sebentar, kamu itu siapa dan kenapa kamu mencariaku?”
“Nilam!”
“Kenapa kamu kaget?”
“Kamu nggak kenal sama aku?”
“Kenal sama kamu, gimana caranya aku bisa kenal sama kamu kalau kita saja baru ketemu hari ini?”
“Jadi kamu emang nggak kenal sama aku?”
“Ya iyalah, kenal darimana coba?”
“Kamu ini kenapa, Nil?”
“Kenapa apanya?”
“Ya kenapa kamu bisa lupa sama aku, kamu tahu nggak kalau kita pernah...”
“Pernah apa?”
“Nggak! Nil, coba kamu lihat mataku! Apakah kamu merasa kalau kita pernah deket?”
Aku pun segera menatap matanya dalam- dalam, kenapa saat aku menatap matanya ada sesuatu yang mengingatkanku pada masa laluku.
“Aduh, kepalaku pusing!”
“Kenapa, Nil?”
“Ka, aku memang ngerasain kalau kita itu pernah kenal!”
“Memang kamu itu kenapa, kenapa kamu bisa lupa sama aku?”
“Dulu, sekitar 1 tahun yang lalu aku pernah kecelakaan, dan kecelakaan itulah yang merubah hidupku!””Jadi kamu lupa sama aku bukan karena kamu sudah lupa sama aku, tapi karena kamu amnesia?”
“Yah seperti itulah kebenarannya!”
Tapi tak tahu kenapa aku menjadi terbayang- bayang masa laluku. Aku teringat akan suatu hal yang dulu pernah aku jalani.
* * *
Malam itu terasa gelap gulita, seperti tanpa sinar rembulan. Ku torehkan sebuah tulisan diatas buku, karena terlalu banyak PR yang harus ku kerjakan. Hari sudah malam jam sudah menunjuk ke angka 11, segera ku baringkan tubuhku ke atas ranjang. Aku berharap, semoga aku bisa bangun lebih awal agar aku bisa mengerjakan tugas untuk persiapan Baksos.
Pagi telah tiba, segera kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat, segera kukerjakan tugas untuk persiapan Baksos. Setelah selesai mengerjakan tugas, aku segera mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah. Karena hari ini adalah hari pelakanaan Baksos dan aku adalah wakil OSIS aku harus segera berangkat ke sekolah untuk menyiapkan semuanya agar pelaksanaan Baksos kali ini bisa berjalan dengan lancar.
* * *
Sesampainya di sekolah ( SMAN 14 Bandung ), aku langsung berjalan menuju ruang pertemuan OSIS. Dan aku tersentak kaget ketika aku melihat teman- temanku sesama pengurus OSIS sudah duduk manis di kursi masing- masing. Ku lihat satu bangku yang kosong, dan bangku itu adalah bangkuku.
“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab mereka serentak.
“Maaf teman- teman, aku terlambat!”
“Nggak apa- apa, Nil!” jawab Kevin, Ketua OSIS di sekolahku.
“Kalian nggak marah sama aku?”
“Ngapain harus marah, kan kamu Cuma telat 1 menit!” jawab Kevin lagi.
“Makasih ya!”
“Sama- sama, ayo duduk, kita akan segera memulai meeting kita!”
“Ok! Sekarang saya akan mempresentasikan hasil tugas yang sudah saya rangkum!”
“Silakan!”
“Terima Kasih! Teman- teman, acara bakti sosial kali ini akan kita laksanakan di sebuah sekolah kecil di perkampungan dekat Pasar Baru. Untuk menunjang pelaksanakan bakti sosial kali ini, dibutuhkan biaya sekitar Rp 5.000.000,00- untuk membeli peralatan sekolah, seperti buku, pen, pensil, penghapus, black board, dan yang lainnya. Dan menurut catatan dalam buku keuangan, uang yang terkumpul baru Rp 2.457.000,00-, jadi saya berharap ada salah seorang relawan yang mau menyumbangkan sebagian hartanya untuk melengkapi kekurangannya.”
“Tapi siapa, Nil?” tanya Kevin.
“Saya yang akan menambah kekurangan biaya untuk acara Baksos kali ini,” suara itu keluar dari mulut seorang lelaki yang duduk di depanku.
“Raka...! kamu yakin?” kagetku.
“Iya, saya yakin!”
“Alhamdulillah, rupanya masih ada orang yang sebaik Raka!”
Setelah semua biaya terkumpul, kita segera menuju ke tempat yang sudah kita rencanakan.
* * *
Sesampainya di sekolah kecil yang dimaksud, kita segera masuk dan memberikan sebuah peralatan sekolah untuk menunjang keberhasilan dari sekolah kecil tersebut.
“Terima kasih, mbak! semoga apa yang mbak kasih bisa bermanfaat bagi anak- anak disini!” kata salah seorang pengajar di sekolah kecil tersebut.
“Sama- sama, bu!” jawab Artini, bendahara OSIS.
Setelah lama kita ngobrol dengan para pengajar dan murid- murid di sekolah kecil itu, kita berpamitan pulang.
“Bu, kita pulang dulu ya!”
“Iya, neng. Saya berharap semoga tuhan membalas kebaikan kalian semua!”
“Aminnnnnnnnnnnnnnnnnn!”
“Wah, aminnya kok sepanjang rel kereta api jurusan Singapura sih?”
“Ah ibu, sukanya bercanda aja! mana ada sih kereta jurusan Singapura?” jawabku.
“Kami pulang dulu ya, bu?” pinta Beno, bendahara OSIS.
“Sekali lagi terimakasih ya, dek!”
“Ya, bu, sama- sama!”
* * *
Aku pun segera terbangun dari lamunanku, aku baru sadar kalau dulu aku pernah mengenal sosok seorang Raka.
“Rak, maafin aku ya! aku nggak tahu kalau dulu kamu pernah jadi sahabat aku!”
“Sahabat?”
“Iya sahabat, bukannya kamu itu sahabat aku?”
“Oh,i i iya!”
“Kamu mau kan bantu aku untuk mengingat masa laluku!”
“Ok! my best friend!”
Walaupun aku tak pernah tahu apa yang dirasakan Raka, tapi aku tahu perasaannya padaku. Tatapan matanya yang tajam selalu membuat hatiku bergetar. Andai aku bisa menyentuhnya dengan segenggam perasaan yang nyata.
“Nil, maafin aku karena aku akan jauh meninggalkanmu disini!”
“Pergi jauh kemana?”
“Pokoknya jauh, jauh dari duniaku sekarang ini,”
“Kamu yakin, nggak akan kembali lagi ke kampung ini?”
“Insyaallah, aku yakin!”
“Tapi kamu nggak akan ngelupain aku kan?”
“Ya nggak lah, masak aku ngelupain sahabat aku sendiri sih!”
“Raka!”
“Kamu nggak usah sedih, aku akan selalu menunggumu. Mungkin jika aku ditakdirkan masih bisa melihat senyumanmu yang manis, aku akan kembali untukmu. Jika kamu mendapat suatu firasat yang menandakan aku akan pulang, tunggu saja aku di danau ini!”
“Hanya itu?”
“Yah. Nil, aku pulang dulu ya!”
“Hati- hati di jalan ya!”
“Ok!”
Raka pun segera pergi meninggalkan ku di danau itu. Setelah bayangan Raka menghilang ku temukan sebuah surat. Kubuka pelan surat itu, dan kemudian kubaca.Isi surat itu adalah
Dear my best Friend, Nilam
Nilam, andai kau tahu segenap rasa sayangku padamu, sesuci perasaankuku padamu, dan seputih rangkaian kasih untukmu. Aku tahu kamu pasti sedih setelah membaca surat ini, tapi apa daya aku harus jujur.
Ku tuliskan sebuah puisi untukmu, segenap rasa sayangku untukmu hanya kau anggap sebatas seorang sahabat, tapi tidak untukku, kamu jauh lebih berharga dari apapun yang aku miliki. Jauh di lubuk hatiku aku memendam perasaan ini, tapi di relung hatiku aku tak mau membuat hatimu terluka karena diriku.
Aku berharap kamu akan terus menyimpan surat ini sampai kapanpun, karena aku akan pergi jauh darimu.Jika kau terluka setelah membaca surat ini, bakarlah surat ini karena aku yakin kamu akan jauh lebih baik dari sekarang ini.
Seharusnya dulu aku tidak meninggalkanmu sendiri, pasti persahabatan kita akan jauh lebih baik dan karna perasaanku yang tidak menentu ini kau jadi hancur.
I WILL ALWAYS LOVE YOU In MY WORLD
Your best Friend
Raka
Setelah selesai membaca surat dari Raka, hatiku pun seraya ingin menangis. Tapi aku sadar tangisku itu sudah tidak berarti lagi.
Selama berbulan- bulan, bahkan bertahun- tahun kutunggui Raka di danau tempat terakhir kita bertemu, tapi tak kunjung- kunjung datang. Akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak terlalu berharap kalau Raka akan kembali.
Aku berjanji kalau aku akan selalu menjadi yang terbaik untuknya. Tapi aku akan berusaha mengubur semua bayangnya dan cerita tentang dirinya. Karena aku yakin, masa depanku akan jauh lebih cerah. Sekarang aku bisa hidup lebih tenang tanpa bayang- bayang Raka.
Kamis, 18 Maret 2010
GAUN BIRU (SIKLUS 2) Revisi
Karya Lis Dewi NB
Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku, selama ini aku hanya bisa terdiam melihat kedua orang tuaku bertengkar. Sebenarnya aku ingin sekali melihat kedua orang tuaku itu damai, tapi apa daya aku hanyalah anak ingusan yang masih duduk di bangku SMP kelas IX. Sekarang ini aku tinggal bersama nenekku, kalian tahu, kenapa aku lebih memilih tinggal bersama nenekku? Yah, pastinya kalian sudah tahu apa sebabnya. Aku sudah tidak betah melihat kedua orang tuaku selalu bertengkar dan bertengkar.Hari-hari ku lewati dengan penuh rasa khawatir, bagaimana jika seandainya aku dan kedua orang tuaku dipisahkan dengan sebuah perceraian. Seandainya aku punya teman yang bisa membantuku menyelesaikan masalahku, mungkin aku bisa lebih lega karena punya teman curhat.
Hari ini aku berangkat ke sekolah, tanpa kusadari ternyata yang aku pakai adalah kaos kaki hitam, padahal hari ini adalah hari senin, akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang untuk ganti kaos kaki. Karena hal itulah aku jadi terlambat masuk sekolah. Sampai disana ternyata upacara hari senin sudah dimulai, padahal aku diberi tugas untuk menjadi pengibar bendera. Kalian pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi padaku. Aku dihukum Pak Mamat untuk berjemur di lapangan sampai jam istirahat selesai.
Ini baru yang pertama, kesialan mungkin sudah berpihak kepadaku. Saat hukumanku sudah selesai, aku mulai beranjak pergi dari tempat yang panas itu, dan saat aku naik ke tangga kakiku terpeleset dan akhirnya aku pun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku. Saat aku sadar, aku sudah berada di ruang UKS. Oh ya, aku kan belum kasih tahu kalian siapa aku dan dimana aku sekolah. Namaku Karina Anastasia Ulfa, sekarang aku sekolah di SMPN 2 Cikantul, Jawa Barat. Nggak tahu kenapa aku jadi merasa minder saat bicara dengan teman-temanku, mungkin karena aku punya masalah yang sangat berat.
* * *
Sekarang adalah hari yang paling aku tunggu, kalian pasti tahu kan kenapa aku senang sekali, soalnya hari ini itu hari libur, libur Semester 1.
”Rin, liburan ini kamu mau kemana?” tanya Rinka padaku.
”Aku mau ke rumah orang tuaku di Jakarta, soalnya aku sudah rindu banget sama mereka!”
”Ya udah deh kalau gitu, sebenarnya aku mau ajak kamu liburan ke puncak”
”Kamu marah ya, jangan marah ya, oke kapan- kapan aku ikut kamu deh, ya!” pintaku.
”Aku nggak marah, aku cuma kecewa saja sama kamu, padahal ini kesempatan kita untuk refreshing bersama,”
Aku pun segera pulang, tapi tak tahu kenapa aku selalu terbayang- bayang wajah kedua orang tuaku, wajah itu begitu jelas tampak sangat jelas dalam pikiranku.
* * *
Sesampainya di rumah nenek, aku segera memasukkan semua baju yang akan aku bawa, termasuk baju faforitku, yaitu baju berwarna putih kelabu. yang dulu aku beli bersama kedua orang tuaku. Setelah selesai memasukkan baju kedalam koperku, aku segera pergi menghampiri nenek untuk berpamitan.
“Kamu itu cucu nenek yang paling nenek sayang, nenek ingin agar kamu tetap disini menemani nenek. Jadi, nenek harap kamu disini saja!”
“Tapi nek, sudah lama sekali Karin nggak ketemu sama ayah dan ibu. Coba nenek pikir, kalau nenek nggak ketemu sama orang tua nenek selama bertahun- tahun, pasti nenek kangen banget kan sama mereka!”
“Sudah, Rin. Kalau kamu bersikukuh untuk bertemu dengan orang tua kamu nenek tidak melarang, tapi ingat! Kamu tidak akan nenek anggap lagi sebagai cucu nenek”
“Nenek jahat! Nenek nggak pernah ngertiin perasaan Karin,”
“Bukan itu maksud nenek, nenek hanya ingin melindungi kamu dari orang- orang yang tidak bermoral seperti kedua orang tuamu itu!”
“Alah itu cuma alas an nenek saja kan, agar aku nggak pergi ke Jakarta!”
“Kalau memang itu pendapat kamu, ya sudah tidak apa-apa, tapi harus kamu ingat, suatu saat nanti kamu akan tahu mengapa nenek melarang kamu pergi ke Jakarta sendirian!”
“Tapi,”
Aku berlari ke kamar, aku tak pernah menyangka jika nenek akan melarangku pergi ke Jakarta. Aku menangis, tanpa kusadari aku tertidur sampai esok hari tiba.
“Wah, masak apa nih, nek? Harum banget,”
“Sudah nggak marah nih?”
“Emang siapa yang marah!”
“Kamu jadi ke Jakarta?”
“Nggak ah, aku nggak mau ke Jakarta,”
“Bener nggak jadi?”
“Ehmmmm, tapi kalau nenek ngijinin Karin jadi kok ke Jakarta,”
“Nenek ijinin kamu pergi ke Jakarta, asal kamu bisa jaga diri saja!”
“Ahh, nenek baik deh!”
“Sana cepat! nenek sudah memesan tiket untuk kamu, dan pesawat yang akan kamu tumpangi itu akan berangkat tepat pukul 10.00!”
“Tapi bagaimana dengan nenek?”
“Kamu nggak usah mikirin nenek, nenek nggak apa-apa di rumah sendiri,”
“Makasih ya, nek!”
“Sana cepat nanti terlambat lho!”
”OMG, anda sipa ya?” tanyaku tergesa- gesa.
”Masak kamu lupa sih sama kakak sendiri?” jawabnya halus.
”Oh, ini Kak Sandra ya?””
”Ya, tuh ingat!”
”Aduuuuh, Kak Sandra ngaget- ngagetin orang saja deh!”
“Kaget ya?”
“Ya iyalah, secara dikagetin gitu, siapa sih orang yang kalau dikagetin nggak kaget?”
“Ada lho,”
“Emang bener, ada?”
“Ya iyalah!”
“Siapa?”
“Nggak tahu, tapi kan emang bener- bener ada!”
“Ya ya percaya deh!”
“Kamu mau ke Jakarta kan?”
“Kok kakak tahu? Tahu darimana?”
“Dari nenek, pasti kamu maksa nenek kan agar dibplehin pergi ke Jakarta?”
“Siapa yang maksa?”
“Kamu!”
“Nenek bohong tuh!”
“Ah, kamu itu, Rin! Tapi bener kan kalau kamu maksa nenek agar diperbolehkan pergi ke Jakarta?”
“Ya deh, tapi ngomong- ngomong kakak mau kemana?”
“Kakak juga mau ke Jakarta, sama kayak kamu,”
“Wah, jadi punya temen deh!”
“Seneng ya?”
“Ya iyalah, masak punya temen malah sedih sih!”
“Rin, kamu mau nggak bantuin kakak?”
“Bantuin apa, kak?”
“Seandainya ini hari terakhir kakak, kamu mau kan memberikan ini sama ayahku!”
“Kakak kok bicara gitu sih, aku jadi takut nih!”
“Memangnya kamu takut kenapa? Kan kakak cuma bilang seandainya!”
“Tapi apa yang kakak katakan itu bisa jadi kenyataan jika ada malaikat lewat lho!”
“Ah, kamu, Rin! Ada- ada saja,”
“Nih ambil!”
“Lho kok dua sih! Emangnya yang satunya lagi untuk siapa?”
“Yang ini untuk ayah, dan yang ini untuk kamu,”
“Ini apa, kak?”
“Ini hanya hadiah saja untuk kamu karena kamu sudah mendapat nilai yang bagus!”
“Kakak tahu darimana kalau aku dapat nilai yang bagus?”
“Dari nenek!”
“Dasar nenek, pasti nenek cerita banyak ya soal Karin?”
“Nggak kok, nenek cuma cerita soal Karin mau pergi ke Jakarta dan soal Karin mendapat nilai yang bagus, itu saja kok!”
“Yuk kita masuk!” ajakku.
Aku dan Kak Sandra beranjak pergi. Sesampainya di ruang pemeriksaan, tiba- tiba Kak Sandra duduk termenung di sebuah kursi. Kulihat wajahnya begitu pucat pasi, sempat terlintas dibenakku pikiran- pikiran kotor tentang Kak Sandra. Mungkin karena terlalu lama melamun, aku tidak melihat kalau Kak Sandra ternyata pinsan. Setelah aku tersadar, kubangunkan Kak Sandra dengan hati- hati.Karena tidak mendapat respon, aku segera membawanya ke rumah sakit, karena aku pikir dia sedang sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Kupanggil para perawat untuk membawa Kak Sandra ke ruang rawat. Mengapa kata- kata Kak Sandra selalu terngiang di telingaku.Aku tak kuat melihat Kak Sandra terbaring lemah di tempat tidur, sedikit- sedikit kuintip tubuh Kak Sandra dari kaca pintu kamar itu. Setelah lama dokter memeriksa Kak Sandra, dokter keluar dengan membawa berita yang sangat aku tunggu- tunggu.
”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?” tanyaku dengan penuh harap.
”Ternyata setelah kami periksa, kakak anda menderita penyakit kanker hati stadium 4!”
”Apaa?kanker hati?” aku tersentak kaget setelah mendengar pernyataan dokter bahwa Kak Sandra menderita penyakit kanker hati.
Akupun segera masuk ke kamar dimana Kak Sandra dirawat. Aku sedih sekali, kenapa harus Kak Sandra yang menderita penyakit kronis itu, kenapa bukan aku saja atau yang lainnya? Itu semua hanya Allah yang tahu.Karena sangking takutnya, aku berfikir kenapa aku nggak ke masjid saja, disana aku dapat berdo’a memohon kepada-Nya agar Kak Sandra bisa sembuh dari penyakitnya.Aku pun beranjak pergi ke masjid, dengan penuh harap kulangkahkan kakiku menuju sebuah masjid dekat rumah sakit dimana Kak Sandra dirawat.
* * *
Setelah sampai di masjid, kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu agar aku bisa segera bersimpuh dihadapan-Nya. Aku pun berdo’a dengan sangat, tanpa kusadari air mata yang menjadi tanda ketegaranku jatuh mengalir.
”Ya Allah, Sembuhkanlah penyakit Kak Sandra, aku ingin agar aku bisa selalu melihat senyumnya, candanya, dan tawanya !”
Setelah lama berdo’a, terlintas dalam benakku bayangan Kak Sandra yang seakan- akan memanggilku untuk segera datang ke rumah sakit. Aku pun berlari secepat mungkin agar aku bisa segera menemui Kak Sandra.
* * *
Aku berlari menuju ke kamar tempat dimana Kak Sandra dirawat. Sesampainya di kamar itu, kulihat tubuh Kak Sandra yang tengah terbujur kaku diatas ranjang. Aku tersentak kaget, dengan refleksnya kuhampiri Kak Sandra dengan penuh rasa khawatir.
”Kak, Kakak bangun, ini Karin, Kakak bangun dong!” teriakku sambil menggoyang- goyangkan tubuh Kak Sandra.
Karena tidak mendapat respon, aku pun segera memanggil dokter.
”Dokter, dokter, kenapa kakak saya, dok?”
”Ada apa?”
”Ini tubuh kakak saya kok jadi kaku kayak gini, tolong selamatkan kakak saya, dok! Ambil langkah yang terbaik, yang penting kakak saya bisa sembuh!”
”Baik kami akan mengambil langkah yang terbaik,”
”Terimakasih, dok!”
Dokter pun segera memeriksa Kak Sandra, dan tak lama kemudian dokter keluar.
”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?”
”Maaf, dek, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain!”
”Apa maksud dokter?”
”Maafkan kami, dek!Tapi sekarang kakak anda telah kembali kepada yang kuasa!”
”Apa!!” aku berlari keluar, kuambil handphoneku untuk memberi tahu keluarga Kak Sandra.
”Halo, Om Jeky! Ini saya he..he..heh Karin!” ucapku dalam percakapanku dengan Om Jeky lewat telepon selularku sambil menangis tersedu-sedu.
”Ada apa, Rin? Kenapa kamu menangis?”
”Kak Sandra, Om, Kak Sandra!”
”Ada apa dengan Sandra?”
”Sekarang Kak Sandra ada di rumah sakit”
”Kenapa Sandra, Rin?”tanya Om Jeky dengan perasaan khawatir.
“Kak Sandra om...Kak Sandra!”
“Iya...Tapi Sandra kenapa?”
“Kata dokter Kak Sandra mengidap penyakit kanker hati dan sekarang kak Sandra dinyatakan sudah...”
“Sudah apa, Rin? Jangan bilang kalau Sandra sudah meninggal!”
”Tapi, Om, Kak Sandra emang sudah meninggal dan sekarang jenazahnya ada di RS Permata Hijau,”
”Sandraaaaaaaa...!”
Dari telepon genggamku itu aku mendengar suara handphone jatuh, aku berfikir jika aku menjadi Om Jeky pasti aku akan jauh lebih sedih dari pada apa yang dirasakan Om Jeky sekarang ini.
* * *
Lama sudah aku menunggu kedatangan Om Jeky dan keluargaku, dan sekitar pukul 16.15 mereka sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Om Jeky langsung menghampiriku dan menanyakan dimana jenazah anak semata wayangnya itu.
”Di mana jenazah Sandra, Rin?”tanya Om Jeky.
”Sekarang jenazah Kak Sandra masih berada di dalam, Om!”
”Oh ya, sebelum Kak Sandra meninggal ia sempat menitipkan ini sama saya, katanya ini untuk Om!”
”Untuk saya?”
”Ya, ini Om !” ku berikan sebuah bungkusan yang dititipkan Kak Sandra kepadaku.
”Ini apa?”
”Ini amanat terakhir kak Sandra sebelum dia meninggal, Om!”
”Saya buka sekarang ya?”
”Terserah Om saja!”
Akhirnya Om Jeky pun segera membuka apa yang aku berikan. Dan didalam bungkusan yang diberikan Kak Sandra itu ada sebuah surat yang isinya adalah,
Untuk Ayahku tercinta,
Ayah, maafkan Sandra ya! Sandra tidak bermaksud untuk membohongi Ayah, tapi keadaan yang memaksa Sandra untuk berbohong. Seandainya dulu ayah tidak mengusir ibu dan tidak menelantarkan Sandra pasti semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin ayah menyesal, tapi penyesalan tidak akan mengubah takdirku, aku ingin ayah merawat ibu dengan baik. Sekarang ibu tinggal di Bumi Ayu, Jawa Barat.
Selamat tinggal ayah, aku berharap semoga ayah selalu berada di bawah lindungan-Nya. Jangan lupa sholat ya, yah!
Salam rindu,
Sandra Duaja.
Setelah Om Jeky membaca surat itu, dia segera mengambil sesuatu yang ada di dalam bungkusan tadi selain surat itu. Ternyata di dalam bungkusan itu ada sebuah boneka yang bertuliskan nama Sandra D.
”Sandraaaaaaaaaaa! Jangan tinggalin ayah!”Teriak Om Jeky.
Setelah Om Jeky membuka bungkusan yang diberikan Kak Sandra, aku pun segera membuka Bungkusan yang diberikan Kak Sandra kepadaku.Setelah aku membukanya, ternyata isinya adalah sebuah gaun yang berwarna biru langit. Di dalam bungkusan itu juga terdapat sepucuk surat yang isinya menyatakan bahwa aku harus merawat baju itu dengan baik, karena ia berkata bahwa di dalam baju itu terdapat jiwanya yang melekat begitu kuat. Setelah aku menanyakan tentang gaun itu kepada Om Jeky, ternyata baju itu adalah baju kesayangan Kak Sandra. Aku pun berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga dan merawat gaun biru itu.
* * *
Kami pun segera menuju ke pemakaman untuk mengubur jenazah Kak Sandra. Setelah proses pemakamannya selesai, aku, ayah & ibu, nenek & kakek serta Om Jeky tidak segera pulang melainkan masih disana untuk melihat wajah terakhir Kak Sandra, walaupun hanya melihat tempat abadinya.
”Kak, maaafin Karin ya, nggak bisa temenin kakak disini”pintaku
”Sandra, maafin ayah, Ayah akan selalu ingat semua pesan-pesan kamu”
Setelah lama termenung, akhirnya kami pulang dengan membawa duka yang sangat berat.
* * *
Di ruang itulah kami mencoba menyelesaikan masalah yang kami hadapi selama ini.
“Gimana apanya?” seru ayah.
“Kalian itu seperti anak kecil saja ya! Kalau tidak bertengkar sebentar saja apa tidak bisa?” celetus nenek.
“Yah, Bu, apa sebaiknya kalian damai saja?” pintaku.
“Iya, Ren, Mas! Itu lebih baik untuk kalian."
“Gimana, Yah?”
“Ehmmmm...Ok, sekarang ayah dan ibumu resmi daaaaamai!”
“Hore... sekarang keluarga Sanjaya udah resmi daaaaaaaaaaaaaaamai!”“Ha...ha...ha...ha...ha...!” kami pun tertawa dengan asyiknya, walaupun masih ada sedikit rasa sedih di hati kami.
Jumat, 12 Maret 2010
GAUN BIRU
Karya Lis Dewi NB
Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku, selama ini aku hanya bisa terdiam melihat kedua orang tuaku bertengkar. Sebenarnya aku ingin sekali melihat kedua orang tuaku itu damai, tapi apa daya aku hanyalah anak ingusan yang masih duduk di bangku SMP. Sekarang ini aku tinggal bersama nenekku, kalian tahu, kenapa aku lebih memilih tinggal bersama nenekku? Yah, pastinya kalian sudah tahu apa sebabnya. Aku sudah tidak betah melihat kedua orang tuaku selalu bertengkar dan bertengkar.Hari-hari ku lewati dengan kesedihan yang mungkin sudah menjadi temanku selama ini. Seandainya aku punya teman yang bisa membantuku menyelesaikan masalahku, mungkin aku bisa lebih lega karena punya teman curhat.
Hari ini aku berangkat ke sekolah, tanpa kusadari ternyata yang aku pakai adalah kaos kaki hitam, padahal hari ini adalah hari senin, akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang untuk ganti kaos kaki. Karena hal itulah aku jadi terlambat masuk sekolah. Sampai disana ternyata upacara hari senin sudah dimulai, padahal aku diberi tugas untuk menjadi pengibar bendera. Kalian pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi padaku. Aku dihukum Pak Mamat untuk berjemur di lapangan sampai jam istirahat selesai.
Ini baru yang pertama, kesialan mungkin sudah berpihak kepadaku. Saat hukumanku sudah selesai, aku mulai beranjak pergi dari tempat yang panas itu, dan saat aku naik ke tangga kakiku terpeleset dan akhirnya aku pun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku. Saat aku sadar, aku sudah berada di ruang UKS. Oh ya, aku kan belum kasih tahu kalian siapa aku dan dimana aku sekolah. Namaku Karina Anastasia Ulfa, sekarang aku sekolah di SMPN 2 Cikantul, Jawa Barat. Nggak tahu kenapa aku jadi merasa minder saat bicara dengan teman-temanku.
* * *
Sekarang adalah hari yang paling aku tunggu, mungkin juga hari yang paling ditunggu teman- temanku, kalian pasti tahu kan kenapa aku senang sekali, soalnya hari ini itu hari libur, libur Semester 1.
”Rin, liburan ini kamu mau kemana?”tanya Rinka padaku.
”Aku mau ke rumah orang tuaku di Jakarta, soalnya aku sudah rindu banget sama mereka!”
”Ya udah deh kalau gitu, sebenarnya aku mau ajak kamu liburan ke puncak”
”Kamu marah ya, jangan marah ya, oke kapan- kapan aku ikut kamu deh, ya!” pintaku.
”Aku nggak marah, aku Cuma kecewa saja sama kamu, padahal ini kesempatan kita untuk refreshing bersama”
Aku pun segera pulang, tapi tak tahu kenapa aku selalu terbayang- bayang wajah kedua orang tuaku.
* * *
Sesampainya di rumah nenekku, aku segera memasukkan semua baju yang akan aku bawa, termasuk baju faforitku, yaitu baju berwarna putih kelabu. yang dulu aku beli bersama kedua orang tuaku. Setelah selesai memasukkan baju kedalam koperku, aku segera pergi ke Bandara.
* * *
Sesampainya disana, aku segera mencari tempat dudukku. Tapi saat aku mencari tempat dudukku, aku bertabrakan dengan seseorang dan ternyata orang itu adalah …
”Kamu! kamu kan Sandra, anak Om Jeki, ya kan?”tanyaku padanya.
”Kok kamu tahu kalau aku anaknya Om Jeki?”tanyanya balik.
”Ya iyalah, secara kita itu sepupuan gitu!”
”Yang bener?”
”Bener, masak kamu lupa sih sama adiknya sendiri?”
”Oh, kamu Karin ya?”
”Nah sekarang sudah ingat kan siapa aku?”
”Maafin aku ya sudah lupain kamu?”pintanya.
”Nggak masalah tuh kalau Cuma maafin kakak aku yang cantik ini” ”Kamu mau kemana?”tanyanya dengan lembut.
”Aku mau ke rumah ayah dan ibu!”
”Lho kok gitu, memangnya selama ini kamu tinggal dimana?”
”Selama ini aku tinggal di rumah nenek”
“Memang ada apa, kenapa kamu tinggal di rumah nenek?”
”Soalnya aku sudah nggak betah melihat ayah dan ibu selalu bertengkar, maka dari itu aku memutuskan untuk tinggal bersama nenek”jelasku.
”Oh gitu”jawabnya singkat.
” Emang kakak mau kemana?”tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu.
”Kakak ingin pergi jauh, mungkin kakak tidak akan bertemu lagi dengan kamu”
”Kakak kok bicara gitu sih, kayak orang mau mati aja”
”Ah itu nggak penting. Oh ya, sebelum kakak pergi kakak ingin kamu memberkan ini sama ayahku”
”Apa itu kak?”tanyaku keheranan.
”Pokoknya kamu kasih saja sama ayahku, nggak usah banyak cincong”pintanya.
”Oke kakakku yang cantik!”
”Dan ini untuk kamu!”
”Apa ini, kak?”
”Nggak, ini cuma hadiah untuk kamu agar kamu ingat selalu sama kakak!”
”Kok kakak ngomong gitu sih, kayak mau mati aja,”
”Emang kakak mau mati!”
”Ah,,,kakak!”
”Enggak, kakak cuma bercanda saja kok!”
”Ya udah kalau gitu, berarti kakak janji kan nggak akan ninggalin aku!”
”Ya ya! Kakak janji,”
* * *
Setelah lama ngobrol, akhirnya pesawat yang kita tumpangi mendarat juga. Aku turun bersama Kak Sandra, setelah turun kita segera menuju ke tempat pemeriksaan.Tapi hal buruk terjadi pada Kak Sandra, dia terjatuh dan pinsan.Aku berteriak minta tolong kepada orang- orang yang ada disitu, agar Kak Sandra bisa cepat dibawa ke rumah sakit.
* * *
Sesampainya di rumah sakit, aku tak kuat melihat Kak Sandra terbaring lemah di tempat tidur. Setelah lama dokter memeriksa Kak Sandra, dokter keluar dengan membawa berita yang sangat aku tunggu- tunggu.
”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?”tanyaku dengan penuh harap.
”Ternyata setelah kami periksa kakak anda menderita penyakit kanker hati stadium 4!”
”Apaa?kanker hati?”aku tersentak kaget setelah mendengar pernyataan dokter bahwa Kak Sandra menderita penyakit kanker hati.
Akupun segera masuk ke sebuah ruangan dimana Kak Sandra dirawat. Aku sedih sekali, kenapa harus Kak Sandra yang menderita penyakit kronis itu, kenapa bukan aku saja atau yang lainnya? Itu semua hanya Allah yang tahu.Karena sangking takutnya, aku berfikir kenapa aku nggak ke masjid saja, disana aku dapat berdo’a memohon kepada-Nya agar Kak Sandra bisa sembuh dari penyakitnya.Aku pun beranjak pergi ke masjid, dengan penuh harap kulangkahkan kakiku menuju sebuah majid dekat rumah sakit dimana Kak Sandra dirawat.
* * *
Setelah aku sampai di masjid, aku langsung mengambil air wudhu untuk bersimpuh dihadapannya. Aku pun berdo’a dengan sangat, tanpa kusadari air mataku jatuh mengalir.
”Ya Allah, Sembuhkanlah penyakit Kak Sandra, aku ingin agar aku bisa selalu melihat senyumnya, candanya, tawanya yang manis itu!”
Setelah lama aku berdo’a, terlintas dalam benakku bayangan Kak Sandra yang seakan- akan memanggilku untuk segera datang ke rumah sakit. Aku pun berlari secepat mungkin agar aku bisa segera menemui Kak Sandra.
* * *
Aku berlari menuju ke kamar tempat dimana Kak Sandra dirawat. Sesampainya di kamar itu, kulihat tubuh Kak Sandra yang tengah terbujur kaku diatas ranjang.
Aku kaget, dengan refleksnya aku menghampiri Kak Sandra.
”Kak, Kakak bangun, ini Karin, Kakak bangun dong!”sambil menggoyah- goyah tubuh Kak Sandra.
Karena tidak mendapat respon, aku pun segera memanggil dokter.
”Dokter, dokter, kenapa kakak saya, dok?”
”Ada apa?”
”Ini tubuh kakak saya kok jadi kaku kayak gini, tolong selamatkan kakak saya, dok! Ambil langkah yang terbaik, yang penting kakak saya bisa sembuh!”
”Baik kami akan mengambil langkah yang terbaik,”
”Terimakasih, dok!”
Dokter pun segera memeriksa Kak Sandra, dan tak lama kemudian dokter keluar.
”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?”
”Maaf, dek, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain!”
”Apa maksud dokter?”
”Maafkan kami, dek!Tapi sekarang kakak anda telah kembali kepada yang kuasa!”
”Apa!!” aku berlari keluar, kuambil handphoneku untuk memberi tahu keluarga Kak Sandra.
”Halo, Om Jeky! Ini saya he..he..heh Karin!” ucapku dalam percakapanku dengan Om Jeky lewat telepon selularku sambil menangis tersedu-sedu.
”Ada apa, Rin? Kenapa kamu menangis?”
”Kak Sandra, Om, Kak Sandra!”
”Ada apa dengan Sandra?”
”Kak Sandra di rumah sakit dan sekarang dia sudah...”
”Sudah apa? jangan bilang kalau Sandra sudah meninggal!”
”Tapi, Om, Kak Sandra emang sudah meninggal dan sekarang ada di RS Permata Hijau,”
”Sandra...!”
Dari telephon genggamku itu aku mendengar suara handphone jatuh, aku berfikir jika aku menjadi Om Jeky pasti aku akan jauh lebih sedih dari pada sekarang ini.
* * *
Lama sudah aku menunggu kedatangan mereka, dan sekitar pukul 16.15 mereka sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Om Jeky langsung menghampiriku dan menanyakan dimana jenazah anak satu- satunya itu.
”Dimana jenazah Sandra, Rin?”tanya Om Jeky.
”Sekarang jenazah Kak Sandra masih berada di dalam!”
”Apa kata dokter, Sandra kenapa? dia sakit apa?”
”Kata dokter Kak Sandra mengidap penyakit kanker hati!”
”Apa? Kanker hati?Kenapa Sandra tidak cerita sama Om?”
”Saya nggak tahu Om?Oh ya, sebelum Kak Sandra meninggal ia sempat menitipkan ini sama saya, katanya ini untuk Om!”
”Untuk saya?”
”Ya, ini Om !”ku berikan sebuah bungkusan yang dititipkan Kak Sandra kepadaku.
”Ini apa?”
”Ini amanat terakhir kak Sandra, Om! Sebelum dia meninggal,”
”Saya buka ya?”
”Terserah Om!”
Akhirnya Om Jeky pun segera membuka apa yang diberikan oleh Kak Sandra.Dan didalam bungkusan itu ada sebuah surat yang isinya adalah,
Untuk Ayahku tercinta,
Ayah, maafkan Sandra ya! Sandra tidak bermaksud untuk membohongi Ayah, tapi keadaan yang memaksa Sandra untuk berbohong. Seandainya dulu ayah tidak mengusir ibu dan tidak menelantarkan Sandra pasti semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin ayah menyesal, tapi penyesalan tidak akan mengubah takdirku, aku ingin ayah merawat ibu dengan baik. Sekarang ibu tinggal di Bumi Ayu, Jawa Barat.
Selamat tinggal ayah, aku berharap semoga ayah selalu berada di bawah lindungan-Nya. Jangan lupa sholat ya, yah!
Salam rindu,
Sandra Duaja.
Setelah Om Jeky membaca surat itu, dia segera mengambil sesuatu yang ada di dalam bungkusan tadi selain surat. Ternyata di dalam bungkusan itu ada sebuah boneka yang bertuliskan nama Sandra D.
”Sandraaaaaaaaaaa! Jangan tinggalin ayah!”Teriak Om Jeky.
Setelah Om Jeky membuka bungkusan yang diberikan Kak Sandra, aku pun segera membuka Bungkusan yang diberikan Kak Sandra kepadaku.Setelah aku membukanya, ternyata isinya adalah sebuah gaun yang berwarna biru langit. Di dalam bungkusan itu juga terdapat sepucuk surat yang isinya menyatakan bahwa aku harus merawat baju itu dengan baik, karena ia berkata bahwa di dalam baju itu terdapat jiwanya yang melekat begitu kuat. Setelah aku menanyakan tentang gaun itu kepada Om Jeky, ternyata baju itu adalah baju kesayangan Kak Sandra. Aku pun berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga dan merawat gaun biru itu.
* * *
Kami pun segera menuju ke pemakaman untuk mengubur jenazah Kak Sandra. Setelah proses pemakamannya selesai, aku, ayah & ibu, nenek & kakek serta Om Jeky tidak langsung pulang melainkan masih disana untuk melihat wajah terakhir Kak Sandra, walaupun hanya melihat tempat abadinya.
”Kak, maaafin Karin ya, nggak bisa temenin kakak disini”pintaku
”Sandra, maafin ayah, Ayah akan selalu ingat semua pesan-pesan kamu”
Setelah lama termenung, akhirnya kami pulang dengan membawa duka yang sangat berat.
Sekarang aku sadar, ternyata masalah keluarga Kak Sandra jauh lebih sulit daripada masalah keluargaku. Tak selamanya masalah itu berat, masalah akan terasa ringan jika kita merasakan ringan, tapi masalah akan terasa berat jika kita merasakan berat. Tuhan tidak akan memberi cobaan untuk umatnya diluar batas kemampuannya.
Sempat terfikir dalam benakku, Mengapa aku bisa bertemu dengan Kak Sandra tepat di hari kematiannya?
Jumat, 26 Februari 2010
My Faforite Song
Dirimu meninggalkan aku
Saat hatiku benar2 mencintaimu
Jejakmu semakin menjauh
Saat hatiku luluh karnamu
Intro: Seharusnya kau ada disini
Saat kumenangis
Semestinya kau memelukku
Saat aku ringkih
Reff : Sadarkah engkau
bagaikan embun pagi
Sejukkan mataku
Engkau adalah resah gelisahku
Ribuan janji kau luapkan padaku
Berjuta kata cinta
Kau tahan d harapku
SAAT TUHAN MENGUJI (Revisi)
Memang sudah nasibku, aku tak pernah menyangka kalau orang yang paling aku sayangi akan pergi meninggalkanku. Seandainya dia tahu apa yang kini aku rasakan pasti semuanya tidak akan berantakan seperti saat ini. “ Ya Allah! mengapa Engkau beri aku cobaan yang seberat ini, apa salahku ? Apakah karena aku tidak selalu menjalankan perintah-Mu, atau karena apa ? jawab ya Allah, aku ingin tahu apa salahku !” Pintaku dalam shalat malamku . Setelah aku selesai shalat, aku segera membaringkan tubuhku keatas ranjang. Dengan penuh harap segera kupejamkan mataku agar aku bisa cepat membawa jiwaku kea lam mimpi.
Pagi telah tiba, mentaripun telah menampakkan sinarnya. Aku terbangun dari tidur malamku, saat itu kudengar suara ibu memanggilku.
“ Len, bangun, sudah siang.Cepat mandi dan segera bantu ibu membuat martabak telur kesukaan ayahmu !” Pinta ibuku yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
“ Ya bu !” Jawabku sambil bangun dari tempat tidurku. Akupun segera mengambil handuk untuk kubawa ke kamar mandi.Saat aku berjalan ke kamar mandi, aku melihat sesosok bayangan anak kecil lewat sekilas di depan kelopak mataku. Bulu kudukkupun merinding, tanpa kuperdulikan hal itu, akupun segera berlari menuju kamar mandi . Tapi sialnya saat aku berlari, aku terpeleset dan jatuh. Akupun sedikit meneteskan air mata, karena sepanjang hidupku baru kali ini aku merasakan sakitnya jatuh .Akupun segera mandi, kupercepat mandiku agar aku bisa membantu ibuku dengan segera. Setelah selesai mandi segera kupakai seragam OSIS kesayanganku.
“ Bu, biar saya saja yang membuat martabak telurnya, ibu ngurusin yang lain saja ! kan kalau sebuah pekerjaan dikerjakan bersama-sama bisa terasa lebih ringan, masak ibu lupa sih sama perkataan ibu sendiri ?” Pintaku pada ibu.
“ Ya nggaklah, masak ibu lupa sih sama ucapan ibu sendiri. Hati-hati, nanti kalau terkena minyak, ibu juga kan yang repot!”
“ Ok, ibuku sayang !” Sahutku dengan penuh keharuan dan semangat.
Ibuku memang sayang sekali padaku, melebihi apapun, begitu pula aku. Aku sudah menganggap ibuku seperti sahabatku, bukankah surga itu ada dibawah telapak kaki ibu ! akan selalu kujunjung tinggi petuah itu. Biarpun nanti ibuku pergi, tapi jiwanya akan selalu berada disampingku .Bagiku ibuku adalah belahan jiwaku selain dia.Setelah selesai membuat martabak telur, aku segera sarapan dan berangkat sekolah.Kupakai sepatu hitamku dan kaos kaki putihku, lalu segera kujinjing tasku untuk kubawa ke sekolah.
***
Langkah demilangkah kulalui di jalan setapak yang kini sudah menjadi jalanku menuju masa depan, mau itu masa depan yang cerah atau masa depan yang suram itu adalah sebuah pilihan yang menurutku sangat mudah untuk aku memilih salah satunya. Kuarungi jalan itu dengan penuh semangat, tanpa menghiraukan kicau-kicau burung yang sedari tadi mengajakku untuk bicara. Lama- kelamaan akhirnya akupun terbujuk juga untuk mengajak bicara seekor burung yang sedang berkicau.
“ Hai burung! Kamu tadi lihat si Novi nggak ? Aku lagi bete nih, soalnya akulagi punya masalah , boleh nggak aku curhat sama kamu ? Boleh ya, boleh kan, pastiboleh dong!”
Akupun baru sadar kalau tadi aku berangkat sudah pukul 06.30,segera kutengok jam tanganku, kulihat jarum jam sudah hampir menunjuk ke angka 7. Akupun segera melangkahkan kakiku menuju gedung sekolahku yang tercinta.
“ Aduh, gimana nih ! Semoga saja aku nggak terlambat, kalau sampai terlambat bisa-bisa aku dihukum bu Asih nih!” Keluhku dalam hati.
***
Sampainya di sekolah, aku langsung berlari menuju kelasku. Sampainya aku dikelas, kulihat teman- temanku yang sedang sibuk dengan buku yang ada di depannya, tanpa terkecuali si Novi, sahabatku.
“ Gimana kabar loe, Len?” Sapa Novi dengan senyumannya yang manis.
“ Kabarku baik-baik aja tuh,gimana dengan kamu?”
“Gue baik-baik aja kok! Aduh Len, loe tahu nggak kalau gue tadi ketemu sama Ferry, dia tuh manis banget deh sampai-sampai gue tuh nggak kedip saat ngelihat dia” Cerocos Novi dengan lagaknya yang selalu pengin terlihat manis di depan semua siswa.
“Manis mana sama OVIE WALI,apa manisnya semanis coklat atau mungkin semanis madu?” Candaku sambil tertawa kecil.
“Ah loe, Len. Loe tuh sukanya bercanda ya kayak pelawak aja !”
Setelah lama kulalui jam pelajaran Pak Har, bel tanda istirahatpun berbunyi. Pak Har yang selalu terlihat serius saat mengajar, segera pergi meninggalkan kelasku.
“ Gue mau ke Kamar mandi, loe mau ikut apa nggak ?”Tanya Novi.
“So pasti, tapi jangan lama-lama ya aku belum selesai mengerjakan tugas dari Pak Mamat!”
“Okelah kalau begitu, Yuk!”
Kamipun segera meninggalkan kelas . Setelah mengantar Novi ke kamar mandi aku segera menuju ke kelas untuk mengerjakan tugas yang belum aku selesaikan.
Setelah lama kuikuti jam pelajaran Pak Mamat, akhirnya bel pulang sekolah bunyi juga. Aku segera mengajak pulqng Novi, karena aku takut kalau aku pulang telat ibu akan memarahiku.
***
Di jalan, aku curhat soal masalahku sama Novi, Novipun juga curhat soal si Ferry.
“Len, gue kepingin jadi pacarnya Ferry, loe mau nggak bantuin gue?” Pinta Novi’
“ What? Kamu minta bantuan sama aku, memangnya apa yang bisa aku lakuin untuk kamu?”
“ Ya iyalah loe bisa, loe kan sepupunya si Ferry!”
“ Ok, kalau memang ini yang bisa aku lakuin buat kamu, tapi kamu juga harus mau kalau aku maintain bantuan?”
“ Ya lah!”
“Alah gaya kamu, kayak Si Mail aja” Candaku.
Saat aku berjalan di badan jalan, tak kusangka ada mobil dari arah yang berlawanan, mobil itu melaju dengan cepat dan menabrakku hingga tubuhku terpanting dengan keras. Air matapun menetes ditubuh Novi, dia terlihat ketakutan, diapun segera membawaku ke Rumah Sakit. Aku tak tahu apa yang terjadi kepadaku, berminggu-minggu aku koma, semua keluarga dan teman- temanku cemas dan takut kalau aku sampai meninggalkan mereka. Setelah 5 minggu aku koma, akhirnya dokter mengabarkan pada keluargaku kalau keadaanku sudah membaik dan disarankan agar keluargaku segera datang ke rumah sakit.
“ Len, kamu sudah sadar ya ? Disini ada Novi dan teman-temanmu yang lain!”Kata ibuku yang menangis tersedu-sedu melihat keadaanku yang masih lemah.
“ Maafin Leni ya bu, kalau selama Leni sakit hanya menyusahkan ibu saja, sekali lagi maafin Leni, ya!” . Aku melihat teman-temanku dengan penuh rasa kebahagiaan. Aku bahagia karena saat aku terbaring lemah di rumah sakit keluarga dan teman- temanku ada disampingku.
“Nov, maafin aku ya, karena aku nggak bisa bantuin kamu buat ngedapetin hati Ferry” Pintaku pada Novi.
“ Apa ? Jadi kamu suka sama aku, Nov !”
Ferrypun tersentak kaget mendengar ucapanku, akupun juga tak tahu kalau Ferry juga ikut menjengukku, jadi aku juga ikut- ikutan kaget saat mendengar Ferry berteriak.
“Maafin aku ya Ferr, selama ini aku udah nyembunyiin perasaanku sama kamu. Aku sudah lancang menyukaimu, sebenarnya gue pengin banget loe tahu perasaan gue, tapi gue sadar kalau cinta itu nggak bisa dipaksain !”
“ Loe nggak salah, gue yang salah . Seharusnya sudah daru dulu gue menyatakan perasaan gue pada loe, hanya saja gue takut untuk mengatakannya pada loe” Sahut Ferry
“ Loe nggak salah, Loe tahu perasaan gue saja gue udah cukup bahagia”
“ Sekarang di depan temen- temen, gue pengin loe jadi pacar gue, gue mahu loe jawab sekarang di depan temen- temen !” Pinta Ferry.
“ Gue mau nerima loe buat jadi pacar gue, tapi ada satu syarat yang harus loe lakuin buat gue”
“ Apa syaratnya, gue akan ngelakuin apa saja asal loe mau jadi pacar gue”
“Gue mau setelah loe jadi pacar gue, loe nggak boleh ngotorin hubungan kita dengan sebuah penghianatan!” Pinta Novi
“ OK, itu sih gampang, tapi loe mau kan jadi pacar gue ?”
“ Ya deh, gue mau jadi pacar loe”
“Ok, Sekarang aku sudah bisa nyatuin kalian berdua. Aku bahagia banget disaat aku terbaring lemah di rumah sakit kalian ada disampingku, itu udah sangat berharga bagiku.Sekarang aku sadar, tanpa kehendak-Nya aku pasti tidak akan bisa bertemu dengan kalian lagi. Nov, sekarang kamu sudah tahu apa masalahku? Ya inilah masalahku, aku nggak bisa menyadari betapa berharganyanya RAHMAT & HIDAYAH-NYA!”.
Setelah aku sembuh dari sakit, aku segera dibawa pulang oleh keluargaku . Sekarang aku bisa menikmati hidup tanpa beban kesalahan yang sudah aku lakuin selama ini. Aku sudah lancang menyalahkan Allah, karena aku telah menganggap kalau Allahlah yang membuat dia pergi meninggalkan aku. Tapi sekarang aku sadar kalau dia pergi karena memang sudah takdirnya, akupun segera membuang jauh- jauh pikiran kotorku itu.
Inilah arti penting dari bersyukur, tanpa-Nya kita tidak akan pernah bisa mendapat kenikmatan yang sangat berharga.Semoga apa yang selama ini aku pikirkan tidak akan pernah terjadi sama kalian.
Rabu, 24 Februari 2010
SAAT TUHAN MENGUJI
Memang sudah nasibku, aku tak pernah menyangka jika orang yang paling aku sayangi akan pergi meninggalkanku. Seandainya dia tahu apa yang kini aku rasakan pasti semuanya tidak akan berantakan seperti saat ini. “ Ya Allah!mengapa Engkau beri aku cobaan yang seberat ini, apa salahku ? Apakah karena aku tidak selalu menjalankan perintah-Mu, atau karena apa ? jawab ya Allah, aku ingin tahu apa salahku !” Pintaku dalam shalat malamku .
Pagi telah tiba, mentaripun telah menampakkan sinarnya. Aku terbangun dari tidur malamku, saatitu kudengar suara ibuku memanggilku.
“ Len, bangun, sudah siang.Cepat mandi dan segera bantu ibu menggoreng telur!” Pinta ibuku yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
“ Ya bu !” Jawabku sambil bangun dari tempat tidurku dan segera mengambil handuk untuk kubawa ke kamar mandi.
Akupun segera mandi, kupercepat mandiku agar aku bisa membantu ibuku dengan segera.
“ Sini biar saya saja yang menggoreng telurnya, ibu ngurus yang lain saja!”
“ Hati-hati, nanti kalau terkena minyak ibu juga kan yang repot!”
“ Ok, ibuku yang baik!” Sahutku dengan penuh keharuan dan semangat.
Ibuku memang sayang sekali padaku, melebihi apapun, begitu pula aku.
Bagiku ibuku adalah belahan jiwaku selain dia.Setelah selesai menggoreng telur, aku segera sarapan dan berangkat sekolah.
***
Langkah demilangkah kulalui di jalan setapak yang kini sudah menjadi jalanku menuju masa depan.Kuarungi jalan itu dengan penuh semangat, tanpa menghiraukan kicau-kicau burung yang dari tadi mengajakku untun bicara. Lama- lama akhirnya akupun terbujuk untuk mengajak bicara seekor burung yang sedang berkicau.
“ Hai burung! Kamu tadi lihat si Novi nggak ? Aku lagi bete nih, soalnya akulagi punya masalah , ada yang nggak mahu menjawab pertanyaanku. Boleh nggak aku curhat sama kamu ? Boleh ya, boleh kan, pastiboleh dong!”
Kutengok jam tanganku, kulihat jarum jam sudah hampir menunjuk ke angka 7. Akupun segera melangkahkan kakiku menuju gedung sekolahku yang tercinta.
“ Aduh, gimana nih ! Semoga saja aku nggak terlambat, kalau sampai terlambat bisa-bisa aku dihukum bu Asih nih!” Pintaku dalam hati.
***
Sampainya di sekolah, aku langsung berlari menuju kelas terbaikku.
“ Gimana kabar loe, Len?” Tanya Novi dengan senyumannya yang manis.
“ Kabarku baik-baik aja tuh,gimana dengan kamu?”
“Gue baik-baik aja kok! Aduh Len, loe tahu nggak kalau gue tadi ketemu sama Ferry, dia tuh manis banget deh sampai-sampai gue tuh nggak kedip saat ngelihat dia” Cerocoh Novi dengan lagaknya yang selalu pengin terlihat manis di depan Ferry.
“Manis mana sama OVIE WALI,apa manisnya semanis coklat ?” Candaku sambil tertawa kecil.
“Ah loe, Len. Loe tuh sukanya bercanda aja ya kayak pelawak aja !”
Setelah lama pelajaran, bel tanda istirahatpun berbunyi. Pak Har yang selalu serius saat mengajar, segera pergi meninggalkan kelasku.
“ Gue mau ke Kamar mandi, loe mau ikut apa nggak ?”Tanya Novi.
“So pasti, tapi jangan lama-lama ya aku belum selesai mengerjakan tugas dari Pak Mamat!”
“Okelah kalau begitu, Yuk!”
Kamipun segera meninggalkan kelas kami. SEtelah mengantar Novi ke kamar mandi aku segera menuju ke kelas untuk mengerjakan tugas yang elum selesai.
Setelah lama mengikuti jam pelajaran terakhir, akhirnya bel pulang sekolah bunyi juga.
***
Di jalan, aku curhat soal masalahku sama Novi, Novipun juga curhat soal si Ferry.
“Len, gue kepingin jadi pacarnya Ferry, loe mau nggak bantuin gue?” Pinta Novi’
“ What? Kamu minta bantuan sama aku, memangnya apa yang bisa aku lakuin untuk kamu?”
“ Ya iyalah loe bisa, loe kan yang paling dekat sama Ferry!”
“ Ya sudahlah kalau memeng ini yang bisa aku lakuin buat kamu, tapi kamu juga harus mau kalau aku maintain bantuan?”
“ Ya lah!”
“Alah gaya kamu kayak Si Mail aja” Candaku.
***
Saat aku berjalan di badan jalan, tak kusangka ada mobil dari arah yang berlawanan melaju dengan cepat sehingga tubuhku terpanting dengan keras. Air matapun menetes ditubuh Novi, dia terlihat ketakutan,diapun segera membawaku ke Rumah Sakit. Berminggu-minggu aku koma, semua keluargaku cemas dan takut kalau aku sampai meninggalkan mereka. Setelah 5 minggu aku koma, akhirnya dokter mengabarkan pada keluargaku kalau aku sudah sadar dan boleh segera dijenguk.
“ Len, kamu sudah sadar? Disini ada Novi dan teman-temanmu yang lain!”Kata ibuku yang menangis tersedu-sedu melihat keadaanku yang masih lemah.
“ Maafin Leni ya bu, kalau selama Leni sakit hanya menyusahkan ibu saja, sekali lagi maafin Leni, ya!” . Aku melihat teman-temanku dengan penuh rasa kebahagiaan.
“Nov, maafin aku ya, karena aku nggak jadi bantuin kamu buat ngedapetin hati Ferry” Pintaku pada Novi.
“Apa! Jadi kamu suka sama aku, Nov?” Ferry kaget mendengar ucapanku.
“Maafin aku ya Ferr, selama ini aku udah nyembunyiin perasaanku sama kamu” Pinta Novi.
“ Sebenarnya aku juga suka sama kamu kok, Nov! Hanya saja aku malu mengatakannya padamu” Sahut Ferry’
“Ok, Sekarang aku sudah bisa nyatuin kalian berdua. Sekarang aku bahagia sekali, disaat aku terbaring lemah di rumah sakit kalian ada disampingku, itu udah sangat berharga bagiku.Sekarang aku sadar, tanpa kehendak-Nya aku pasti tidak akan bisa bertemu dengan kalian lagi. Nov, sekarang kamu sudah tahu kana pa masalahku? Ya inilah masalahku, aku nggak bisa menyadari betapa pentingnya RAHMAT & HIDAYAH-NYA!” .
Inilah arti penting dari bersyukur, tanpa-Nya kita tidak akan pernah bisa mendapat kenikmatan yang indah dan bermanfaat.Semoga apa yang aku alami tidak terjadi sama kailian.
CARA
Selasa, 23 Februari 2010
T3NT@N9 4KU

TOKOH KARTUN FAFORITKU