u comment i follow

W3LC0M3 !N MY BL0G

My Zodi4k

My Zodi4k

Kamis, 18 Maret 2010

GAUN BIRU (SIKLUS 2) Revisi

Karya Lis Dewi NB

Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku, selama ini aku hanya bisa terdiam melihat kedua orang tuaku bertengkar. Sebenarnya aku ingin sekali melihat kedua orang tuaku itu damai, tapi apa daya aku hanyalah anak ingusan yang masih duduk di bangku SMP kelas IX. Sekarang ini aku tinggal bersama nenekku, kalian tahu, kenapa aku lebih memilih tinggal bersama nenekku? Yah, pastinya kalian sudah tahu apa sebabnya. Aku sudah tidak betah melihat kedua orang tuaku selalu bertengkar dan bertengkar.Hari-hari ku lewati dengan penuh rasa khawatir, bagaimana jika seandainya aku dan kedua orang tuaku dipisahkan dengan sebuah perceraian. Seandainya aku punya teman yang bisa membantuku menyelesaikan masalahku, mungkin aku bisa lebih lega karena punya teman curhat.

Hari ini aku berangkat ke sekolah, tanpa kusadari ternyata yang aku pakai adalah kaos kaki hitam, padahal hari ini adalah hari senin, akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang untuk ganti kaos kaki. Karena hal itulah aku jadi terlambat masuk sekolah. Sampai disana ternyata upacara hari senin sudah dimulai, padahal aku diberi tugas untuk menjadi pengibar bendera. Kalian pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi padaku. Aku dihukum Pak Mamat untuk berjemur di lapangan sampai jam istirahat selesai.
Ini baru yang pertama, kesialan mungkin sudah berpihak kepadaku. Saat hukumanku sudah selesai, aku mulai beranjak pergi dari tempat yang panas itu, dan saat aku naik ke tangga kakiku terpeleset dan akhirnya aku pun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku. Saat aku sadar, aku sudah berada di ruang UKS. Oh ya, aku kan belum kasih tahu kalian siapa aku dan dimana aku sekolah. Namaku Karina Anastasia Ulfa, sekarang aku sekolah di SMPN 2 Cikantul, Jawa Barat. Nggak tahu kenapa aku jadi merasa minder saat bicara dengan teman-temanku, mungkin karena aku punya masalah yang sangat berat.

* * *

Sekarang adalah hari yang paling aku tunggu, kalian pasti tahu kan kenapa aku senang sekali, soalnya hari ini itu hari libur, libur Semester 1.

”Rin, liburan ini kamu mau kemana?” tanya Rinka padaku.
”Aku mau ke rumah orang tuaku di Jakarta, soalnya aku sudah rindu banget sama mereka!”
”Ya udah deh kalau gitu, sebenarnya aku mau ajak kamu liburan ke puncak”
”Kamu marah ya, jangan marah ya, oke kapan- kapan aku ikut kamu deh, ya!” pintaku.
”Aku nggak marah, aku cuma kecewa saja sama kamu, padahal ini kesempatan kita untuk refreshing bersama,”

Aku pun segera pulang, tapi tak tahu kenapa aku selalu terbayang- bayang wajah kedua orang tuaku, wajah itu begitu jelas tampak sangat jelas dalam pikiranku.

* * *

Sesampainya di rumah nenek, aku segera memasukkan semua baju yang akan aku bawa, termasuk baju faforitku, yaitu baju berwarna putih kelabu. yang dulu aku beli bersama kedua orang tuaku. Setelah selesai memasukkan baju kedalam koperku, aku segera pergi menghampiri nenek untuk berpamitan.

“Nek, Karin sudah kangen banget sama ayah dan ibu, Karin boleh kan pergi ke Jakarta!” pintaku pada nenek.
“Kamu itu cucu nenek yang paling nenek sayang, nenek ingin agar kamu tetap disini menemani nenek. Jadi, nenek harap kamu disini saja!”
“Tapi nek, sudah lama sekali Karin nggak ketemu sama ayah dan ibu. Coba nenek pikir, kalau nenek nggak ketemu sama orang tua nenek selama bertahun- tahun, pasti nenek kangen banget kan sama mereka!”
“Sudah, Rin. Kalau kamu bersikukuh untuk bertemu dengan orang tua kamu nenek tidak melarang, tapi ingat! Kamu tidak akan nenek anggap lagi sebagai cucu nenek”
“Nenek jahat! Nenek nggak pernah ngertiin perasaan Karin,”
“Bukan itu maksud nenek, nenek hanya ingin melindungi kamu dari orang- orang yang tidak bermoral seperti kedua orang tuamu itu!”
“Alah itu cuma alas an nenek saja kan, agar aku nggak pergi ke Jakarta!”
“Kalau memang itu pendapat kamu, ya sudah tidak apa-apa, tapi harus kamu ingat, suatu saat nanti kamu akan tahu mengapa nenek melarang kamu pergi ke Jakarta sendirian!”
“Tapi,”

Aku berlari ke kamar, aku tak pernah menyangka jika nenek akan melarangku pergi ke Jakarta. Aku menangis, tanpa kusadari aku tertidur sampai esok hari tiba.

Pagi telah tiba, kabut putih mulai menyelimuti rumah nenek. Ku angkat tubuhku pelan-pelan, tapi tak tahu kenapa kepalaku terasa pening. Akupun segera menghampiri nenek yang sedang berada di dapur. Ku cium aroma masakan nenek, sedaaaaap!

“Wah, masak apa nih, nek? Harum banget,”
“Sudah nggak marah nih?”
“Emang siapa yang marah!”
“Kamu jadi ke Jakarta?”
“Nggak ah, aku nggak mau ke Jakarta,”
“Bener nggak jadi?”
“Ehmmmm, tapi kalau nenek ngijinin Karin jadi kok ke Jakarta,”
“Nenek ijinin kamu pergi ke Jakarta, asal kamu bisa jaga diri saja!”
“Ahh, nenek baik deh!”
“Sana cepat! nenek sudah memesan tiket untuk kamu, dan pesawat yang akan kamu tumpangi itu akan berangkat tepat pukul 10.00!”
“Tapi bagaimana dengan nenek?”
“Kamu nggak usah mikirin nenek, nenek nggak apa-apa di rumah sendiri,”
“Makasih ya, nek!”
“Sana cepat nanti terlambat lho!”

Aku pun segera berkemas, dengan semangat menyala- nyala ku langkahkan kakiku untuk mencari taksi yang mau mengantarku ke Bandara.

* * *

Sesampainya di Bandara, aku segera mencari pesawat yang akan akau tumpangi. Aku tersentak kaget ketika seorang perempuan yang masih muda menghampiri aku.

”OMG, anda sipa ya?” tanyaku tergesa- gesa.
”Masak kamu lupa sih sama kakak sendiri?” jawabnya halus.
”Oh, ini Kak Sandra ya?””
”Ya, tuh ingat!”
”Aduuuuh, Kak Sandra ngaget- ngagetin orang saja deh!”
“Kaget ya?”
“Ya iyalah, secara dikagetin gitu, siapa sih orang yang kalau dikagetin nggak kaget?”
“Ada lho,”
“Emang bener, ada?”
“Ya iyalah!”
“Siapa?”
“Nggak tahu, tapi kan emang bener- bener ada!”
“Ya ya percaya deh!”
“Kamu mau ke Jakarta kan?”
“Kok kakak tahu? Tahu darimana?”
“Dari nenek, pasti kamu maksa nenek kan agar dibplehin pergi ke Jakarta?”
“Siapa yang maksa?”
“Kamu!”
“Nenek bohong tuh!”
“Ah, kamu itu, Rin! Tapi bener kan kalau kamu maksa nenek agar diperbolehkan pergi ke Jakarta?”
“Ya deh, tapi ngomong- ngomong kakak mau kemana?”
“Kakak juga mau ke Jakarta, sama kayak kamu,”
“Wah, jadi punya temen deh!”
“Seneng ya?”
“Ya iyalah, masak punya temen malah sedih sih!”
“Rin, kamu mau nggak bantuin kakak?”
“Bantuin apa, kak?”
“Seandainya ini hari terakhir kakak, kamu mau kan memberikan ini sama ayahku!”
“Kakak kok bicara gitu sih, aku jadi takut nih!”
“Memangnya kamu takut kenapa? Kan kakak cuma bilang seandainya!”
“Tapi apa yang kakak katakan itu bisa jadi kenyataan jika ada malaikat lewat lho!”
“Ah, kamu, Rin! Ada- ada saja,”
“Nih ambil!”
“Lho kok dua sih! Emangnya yang satunya lagi untuk siapa?”
“Yang ini untuk ayah, dan yang ini untuk kamu,”
“Ini apa, kak?”
“Ini hanya hadiah saja untuk kamu karena kamu sudah mendapat nilai yang bagus!”
“Kakak tahu darimana kalau aku dapat nilai yang bagus?”
“Dari nenek!”
“Dasar nenek, pasti nenek cerita banyak ya soal Karin?”
“Nggak kok, nenek cuma cerita soal Karin mau pergi ke Jakarta dan soal Karin mendapat nilai yang bagus, itu saja kok!”
“Yuk kita masuk!” ajakku.

Lama sudah kita berbincang- bincang, tak terasa waktu sudah menunjuk ke angka 10. Pesawat yang kita tumpangi segera tinggal landas.Di dalam pesawat, aku merasakan begitu dekat dengan Kak Sandra.Karena terlalu lama diam, aku pun tertidur. 2 jam telah berlalu, kudengar suara seseorang memanggilku. Suara itu adalah suara Kak Sandra, karena kaget aku pun terbangun dari tidurku. Kuambil koperku dan beranjak turun dari pesawat itu.

* * *

Aku dan Kak Sandra beranjak pergi. Sesampainya di ruang pemeriksaan, tiba- tiba Kak Sandra duduk termenung di sebuah kursi. Kulihat wajahnya begitu pucat pasi, sempat terlintas dibenakku pikiran- pikiran kotor tentang Kak Sandra. Mungkin karena terlalu lama melamun, aku tidak melihat kalau Kak Sandra ternyata pinsan. Setelah aku tersadar, kubangunkan Kak Sandra dengan hati- hati.Karena tidak mendapat respon, aku segera membawanya ke rumah sakit, karena aku pikir dia sedang sakit.

* * *
Sesampainya di rumah sakit, Kupanggil para perawat untuk membawa Kak Sandra ke ruang rawat. Mengapa kata- kata Kak Sandra selalu terngiang di telingaku.Aku tak kuat melihat Kak Sandra terbaring lemah di tempat tidur, sedikit- sedikit kuintip tubuh Kak Sandra dari kaca pintu kamar itu. Setelah lama dokter memeriksa Kak Sandra, dokter keluar dengan membawa berita yang sangat aku tunggu- tunggu.

”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?” tanyaku dengan penuh harap.
”Ternyata setelah kami periksa, kakak anda menderita penyakit kanker hati stadium 4!”
”Apaa?kanker hati?” aku tersentak kaget setelah mendengar pernyataan dokter bahwa Kak Sandra menderita penyakit kanker hati.

Akupun segera masuk ke kamar dimana Kak Sandra dirawat. Aku sedih sekali, kenapa harus Kak Sandra yang menderita penyakit kronis itu, kenapa bukan aku saja atau yang lainnya? Itu semua hanya Allah yang tahu.Karena sangking takutnya, aku berfikir kenapa aku nggak ke masjid saja, disana aku dapat berdo’a memohon kepada-Nya agar Kak Sandra bisa sembuh dari penyakitnya.Aku pun beranjak pergi ke masjid, dengan penuh harap kulangkahkan kakiku menuju sebuah masjid dekat rumah sakit dimana Kak Sandra dirawat.

* * *

Setelah sampai di masjid, kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu agar aku bisa segera bersimpuh dihadapan-Nya. Aku pun berdo’a dengan sangat, tanpa kusadari air mata yang menjadi tanda ketegaranku jatuh mengalir.

”Ya Allah, Sembuhkanlah penyakit Kak Sandra, aku ingin agar aku bisa selalu melihat senyumnya, candanya, dan tawanya !”

Setelah lama berdo’a, terlintas dalam benakku bayangan Kak Sandra yang seakan- akan memanggilku untuk segera datang ke rumah sakit. Aku pun berlari secepat mungkin agar aku bisa segera menemui Kak Sandra.

* * *

Aku berlari menuju ke kamar tempat dimana Kak Sandra dirawat. Sesampainya di kamar itu, kulihat tubuh Kak Sandra yang tengah terbujur kaku diatas ranjang. Aku tersentak kaget, dengan refleksnya kuhampiri Kak Sandra dengan penuh rasa khawatir.

”Kak, Kakak bangun, ini Karin, Kakak bangun dong!” teriakku sambil menggoyang- goyangkan tubuh Kak Sandra.

Karena tidak mendapat respon, aku pun segera memanggil dokter.

”Dokter, dokter, kenapa kakak saya, dok?”
”Ada apa?”
”Ini tubuh kakak saya kok jadi kaku kayak gini, tolong selamatkan kakak saya, dok! Ambil langkah yang terbaik, yang penting kakak saya bisa sembuh!”
”Baik kami akan mengambil langkah yang terbaik,”
”Terimakasih, dok!”


Dokter pun segera memeriksa Kak Sandra, dan tak lama kemudian dokter keluar.

”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?”
”Maaf, dek, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain!”
”Apa maksud dokter?”
”Maafkan kami, dek!Tapi sekarang kakak anda telah kembali kepada yang kuasa!”
”Apa!!” aku berlari keluar, kuambil handphoneku untuk memberi tahu keluarga Kak Sandra.
”Halo, Om Jeky! Ini saya he..he..heh Karin!” ucapku dalam percakapanku dengan Om Jeky lewat telepon selularku sambil menangis tersedu-sedu.
”Ada apa, Rin? Kenapa kamu menangis?”
”Kak Sandra, Om, Kak Sandra!”
”Ada apa dengan Sandra?”
”Sekarang Kak Sandra ada di rumah sakit”
”Kenapa Sandra, Rin?”tanya Om Jeky dengan perasaan khawatir.
“Kak Sandra om...Kak Sandra!”
“Iya...Tapi Sandra kenapa?”
“Kata dokter Kak Sandra mengidap penyakit kanker hati dan sekarang kak Sandra dinyatakan sudah...”
“Sudah apa, Rin? Jangan bilang kalau Sandra sudah meninggal!”
”Tapi, Om, Kak Sandra emang sudah meninggal dan sekarang jenazahnya ada di RS Permata Hijau,”
”Sandraaaaaaaa...!”

Dari telepon genggamku itu aku mendengar suara handphone jatuh, aku berfikir jika aku menjadi Om Jeky pasti aku akan jauh lebih sedih dari pada apa yang dirasakan Om Jeky sekarang ini.

* * *

Lama sudah aku menunggu kedatangan Om Jeky dan keluargaku, dan sekitar pukul 16.15 mereka sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Om Jeky langsung menghampiriku dan menanyakan dimana jenazah anak semata wayangnya itu.

”Di mana jenazah Sandra, Rin?”tanya Om Jeky.
”Sekarang jenazah Kak Sandra masih berada di dalam, Om!”
”Oh ya, sebelum Kak Sandra meninggal ia sempat menitipkan ini sama saya, katanya ini untuk Om!”
”Untuk saya?”
”Ya, ini Om !” ku berikan sebuah bungkusan yang dititipkan Kak Sandra kepadaku.
”Ini apa?”
”Ini amanat terakhir kak Sandra sebelum dia meninggal, Om!”
”Saya buka sekarang ya?”
”Terserah Om saja!”

Akhirnya Om Jeky pun segera membuka apa yang aku berikan. Dan didalam bungkusan yang diberikan Kak Sandra itu ada sebuah surat yang isinya adalah,

Untuk Ayahku tercinta,

Ayah, maafkan Sandra ya! Sandra tidak bermaksud untuk membohongi Ayah, tapi keadaan yang memaksa Sandra untuk berbohong. Seandainya dulu ayah tidak mengusir ibu dan tidak menelantarkan Sandra pasti semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin ayah menyesal, tapi penyesalan tidak akan mengubah takdirku, aku ingin ayah merawat ibu dengan baik. Sekarang ibu tinggal di Bumi Ayu, Jawa Barat.

Selamat tinggal ayah, aku berharap semoga ayah selalu berada di bawah lindungan-Nya. Jangan lupa sholat ya, yah!

Salam rindu,
Sandra Duaja
.

Setelah Om Jeky membaca surat itu, dia segera mengambil sesuatu yang ada di dalam bungkusan tadi selain surat itu. Ternyata di dalam bungkusan itu ada sebuah boneka yang bertuliskan nama Sandra D.

”Sandraaaaaaaaaaa! Jangan tinggalin ayah!”Teriak Om Jeky.

Setelah Om Jeky membuka bungkusan yang diberikan Kak Sandra, aku pun segera membuka Bungkusan yang diberikan Kak Sandra kepadaku.Setelah aku membukanya, ternyata isinya adalah sebuah gaun yang berwarna biru langit. Di dalam bungkusan itu juga terdapat sepucuk surat yang isinya menyatakan bahwa aku harus merawat baju itu dengan baik, karena ia berkata bahwa di dalam baju itu terdapat jiwanya yang melekat begitu kuat. Setelah aku menanyakan tentang gaun itu kepada Om Jeky, ternyata baju itu adalah baju kesayangan Kak Sandra. Aku pun berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga dan merawat gaun biru itu.

* * *

Kami pun segera menuju ke pemakaman untuk mengubur jenazah Kak Sandra. Setelah proses pemakamannya selesai, aku, ayah & ibu, nenek & kakek serta Om Jeky tidak segera pulang melainkan masih disana untuk melihat wajah terakhir Kak Sandra, walaupun hanya melihat tempat abadinya.

”Kak, maaafin Karin ya, nggak bisa temenin kakak disini”pintaku
”Sandra, maafin ayah, Ayah akan selalu ingat semua pesan-pesan kamu”
Setelah lama termenung, akhirnya kami pulang dengan membawa duka yang sangat berat.

* * *

Sampainya di rumah orang tuaku, aku, nenek, ayah, dan ibu berkumpul di ruang tengah.
Di ruang itulah kami mencoba menyelesaikan masalah yang kami hadapi selama ini.

“Gimana,Yah?” tanya ibu pada ayahku.
“Gimana apanya?” seru ayah.
“Kalian itu seperti anak kecil saja ya! Kalau tidak bertengkar sebentar saja apa tidak bisa?” celetus nenek.
“Yah, Bu, apa sebaiknya kalian damai saja?” pintaku.
“Iya, Ren, Mas! Itu lebih baik untuk kalian."
“Gimana, Yah?”
“Ehmmmm...Ok, sekarang ayah dan ibumu resmi daaaaamai!”
“Hore... sekarang keluarga Sanjaya udah resmi daaaaaaaaaaaaaaamai!”
“Ha...ha...ha...ha...ha...!” kami pun tertawa dengan asyiknya, walaupun masih ada sedikit rasa sedih di hati kami.

Sekarang aku sadar, ternyata masalah keluarga Kak Sandra jauh lebih sulit daripada masalah keluargaku. Tak selamanya masalah itu berat, masalah akan terasa ringan jika kita merasakan ringan, tapi masalah akan terasa berat jika kita merasakan berat. Tuhan tidak akan memberi cobaan untuk umatnya diluar batas kemampuannya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar