Jumat, 12 Maret 2010
GAUN BIRU
Karya Lis Dewi NB
Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku, selama ini aku hanya bisa terdiam melihat kedua orang tuaku bertengkar. Sebenarnya aku ingin sekali melihat kedua orang tuaku itu damai, tapi apa daya aku hanyalah anak ingusan yang masih duduk di bangku SMP. Sekarang ini aku tinggal bersama nenekku, kalian tahu, kenapa aku lebih memilih tinggal bersama nenekku? Yah, pastinya kalian sudah tahu apa sebabnya. Aku sudah tidak betah melihat kedua orang tuaku selalu bertengkar dan bertengkar.Hari-hari ku lewati dengan kesedihan yang mungkin sudah menjadi temanku selama ini. Seandainya aku punya teman yang bisa membantuku menyelesaikan masalahku, mungkin aku bisa lebih lega karena punya teman curhat.
Hari ini aku berangkat ke sekolah, tanpa kusadari ternyata yang aku pakai adalah kaos kaki hitam, padahal hari ini adalah hari senin, akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang untuk ganti kaos kaki. Karena hal itulah aku jadi terlambat masuk sekolah. Sampai disana ternyata upacara hari senin sudah dimulai, padahal aku diberi tugas untuk menjadi pengibar bendera. Kalian pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi padaku. Aku dihukum Pak Mamat untuk berjemur di lapangan sampai jam istirahat selesai.
Ini baru yang pertama, kesialan mungkin sudah berpihak kepadaku. Saat hukumanku sudah selesai, aku mulai beranjak pergi dari tempat yang panas itu, dan saat aku naik ke tangga kakiku terpeleset dan akhirnya aku pun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku. Saat aku sadar, aku sudah berada di ruang UKS. Oh ya, aku kan belum kasih tahu kalian siapa aku dan dimana aku sekolah. Namaku Karina Anastasia Ulfa, sekarang aku sekolah di SMPN 2 Cikantul, Jawa Barat. Nggak tahu kenapa aku jadi merasa minder saat bicara dengan teman-temanku.
* * *
Sekarang adalah hari yang paling aku tunggu, mungkin juga hari yang paling ditunggu teman- temanku, kalian pasti tahu kan kenapa aku senang sekali, soalnya hari ini itu hari libur, libur Semester 1.
”Rin, liburan ini kamu mau kemana?”tanya Rinka padaku.
”Aku mau ke rumah orang tuaku di Jakarta, soalnya aku sudah rindu banget sama mereka!”
”Ya udah deh kalau gitu, sebenarnya aku mau ajak kamu liburan ke puncak”
”Kamu marah ya, jangan marah ya, oke kapan- kapan aku ikut kamu deh, ya!” pintaku.
”Aku nggak marah, aku Cuma kecewa saja sama kamu, padahal ini kesempatan kita untuk refreshing bersama”
Aku pun segera pulang, tapi tak tahu kenapa aku selalu terbayang- bayang wajah kedua orang tuaku.
* * *
Sesampainya di rumah nenekku, aku segera memasukkan semua baju yang akan aku bawa, termasuk baju faforitku, yaitu baju berwarna putih kelabu. yang dulu aku beli bersama kedua orang tuaku. Setelah selesai memasukkan baju kedalam koperku, aku segera pergi ke Bandara.
* * *
Sesampainya disana, aku segera mencari tempat dudukku. Tapi saat aku mencari tempat dudukku, aku bertabrakan dengan seseorang dan ternyata orang itu adalah …
”Kamu! kamu kan Sandra, anak Om Jeki, ya kan?”tanyaku padanya.
”Kok kamu tahu kalau aku anaknya Om Jeki?”tanyanya balik.
”Ya iyalah, secara kita itu sepupuan gitu!”
”Yang bener?”
”Bener, masak kamu lupa sih sama adiknya sendiri?”
”Oh, kamu Karin ya?”
”Nah sekarang sudah ingat kan siapa aku?”
”Maafin aku ya sudah lupain kamu?”pintanya.
”Nggak masalah tuh kalau Cuma maafin kakak aku yang cantik ini” ”Kamu mau kemana?”tanyanya dengan lembut.
”Aku mau ke rumah ayah dan ibu!”
”Lho kok gitu, memangnya selama ini kamu tinggal dimana?”
”Selama ini aku tinggal di rumah nenek”
“Memang ada apa, kenapa kamu tinggal di rumah nenek?”
”Soalnya aku sudah nggak betah melihat ayah dan ibu selalu bertengkar, maka dari itu aku memutuskan untuk tinggal bersama nenek”jelasku.
”Oh gitu”jawabnya singkat.
” Emang kakak mau kemana?”tanyaku dengan penuh rasa ingin tahu.
”Kakak ingin pergi jauh, mungkin kakak tidak akan bertemu lagi dengan kamu”
”Kakak kok bicara gitu sih, kayak orang mau mati aja”
”Ah itu nggak penting. Oh ya, sebelum kakak pergi kakak ingin kamu memberkan ini sama ayahku”
”Apa itu kak?”tanyaku keheranan.
”Pokoknya kamu kasih saja sama ayahku, nggak usah banyak cincong”pintanya.
”Oke kakakku yang cantik!”
”Dan ini untuk kamu!”
”Apa ini, kak?”
”Nggak, ini cuma hadiah untuk kamu agar kamu ingat selalu sama kakak!”
”Kok kakak ngomong gitu sih, kayak mau mati aja,”
”Emang kakak mau mati!”
”Ah,,,kakak!”
”Enggak, kakak cuma bercanda saja kok!”
”Ya udah kalau gitu, berarti kakak janji kan nggak akan ninggalin aku!”
”Ya ya! Kakak janji,”
* * *
Setelah lama ngobrol, akhirnya pesawat yang kita tumpangi mendarat juga. Aku turun bersama Kak Sandra, setelah turun kita segera menuju ke tempat pemeriksaan.Tapi hal buruk terjadi pada Kak Sandra, dia terjatuh dan pinsan.Aku berteriak minta tolong kepada orang- orang yang ada disitu, agar Kak Sandra bisa cepat dibawa ke rumah sakit.
* * *
Sesampainya di rumah sakit, aku tak kuat melihat Kak Sandra terbaring lemah di tempat tidur. Setelah lama dokter memeriksa Kak Sandra, dokter keluar dengan membawa berita yang sangat aku tunggu- tunggu.
”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?”tanyaku dengan penuh harap.
”Ternyata setelah kami periksa kakak anda menderita penyakit kanker hati stadium 4!”
”Apaa?kanker hati?”aku tersentak kaget setelah mendengar pernyataan dokter bahwa Kak Sandra menderita penyakit kanker hati.
Akupun segera masuk ke sebuah ruangan dimana Kak Sandra dirawat. Aku sedih sekali, kenapa harus Kak Sandra yang menderita penyakit kronis itu, kenapa bukan aku saja atau yang lainnya? Itu semua hanya Allah yang tahu.Karena sangking takutnya, aku berfikir kenapa aku nggak ke masjid saja, disana aku dapat berdo’a memohon kepada-Nya agar Kak Sandra bisa sembuh dari penyakitnya.Aku pun beranjak pergi ke masjid, dengan penuh harap kulangkahkan kakiku menuju sebuah majid dekat rumah sakit dimana Kak Sandra dirawat.
* * *
Setelah aku sampai di masjid, aku langsung mengambil air wudhu untuk bersimpuh dihadapannya. Aku pun berdo’a dengan sangat, tanpa kusadari air mataku jatuh mengalir.
”Ya Allah, Sembuhkanlah penyakit Kak Sandra, aku ingin agar aku bisa selalu melihat senyumnya, candanya, tawanya yang manis itu!”
Setelah lama aku berdo’a, terlintas dalam benakku bayangan Kak Sandra yang seakan- akan memanggilku untuk segera datang ke rumah sakit. Aku pun berlari secepat mungkin agar aku bisa segera menemui Kak Sandra.
* * *
Aku berlari menuju ke kamar tempat dimana Kak Sandra dirawat. Sesampainya di kamar itu, kulihat tubuh Kak Sandra yang tengah terbujur kaku diatas ranjang.
Aku kaget, dengan refleksnya aku menghampiri Kak Sandra.
”Kak, Kakak bangun, ini Karin, Kakak bangun dong!”sambil menggoyah- goyah tubuh Kak Sandra.
Karena tidak mendapat respon, aku pun segera memanggil dokter.
”Dokter, dokter, kenapa kakak saya, dok?”
”Ada apa?”
”Ini tubuh kakak saya kok jadi kaku kayak gini, tolong selamatkan kakak saya, dok! Ambil langkah yang terbaik, yang penting kakak saya bisa sembuh!”
”Baik kami akan mengambil langkah yang terbaik,”
”Terimakasih, dok!”
Dokter pun segera memeriksa Kak Sandra, dan tak lama kemudian dokter keluar.
”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?”
”Maaf, dek, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain!”
”Apa maksud dokter?”
”Maafkan kami, dek!Tapi sekarang kakak anda telah kembali kepada yang kuasa!”
”Apa!!” aku berlari keluar, kuambil handphoneku untuk memberi tahu keluarga Kak Sandra.
”Halo, Om Jeky! Ini saya he..he..heh Karin!” ucapku dalam percakapanku dengan Om Jeky lewat telepon selularku sambil menangis tersedu-sedu.
”Ada apa, Rin? Kenapa kamu menangis?”
”Kak Sandra, Om, Kak Sandra!”
”Ada apa dengan Sandra?”
”Kak Sandra di rumah sakit dan sekarang dia sudah...”
”Sudah apa? jangan bilang kalau Sandra sudah meninggal!”
”Tapi, Om, Kak Sandra emang sudah meninggal dan sekarang ada di RS Permata Hijau,”
”Sandra...!”
Dari telephon genggamku itu aku mendengar suara handphone jatuh, aku berfikir jika aku menjadi Om Jeky pasti aku akan jauh lebih sedih dari pada sekarang ini.
* * *
Lama sudah aku menunggu kedatangan mereka, dan sekitar pukul 16.15 mereka sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Om Jeky langsung menghampiriku dan menanyakan dimana jenazah anak satu- satunya itu.
”Dimana jenazah Sandra, Rin?”tanya Om Jeky.
”Sekarang jenazah Kak Sandra masih berada di dalam!”
”Apa kata dokter, Sandra kenapa? dia sakit apa?”
”Kata dokter Kak Sandra mengidap penyakit kanker hati!”
”Apa? Kanker hati?Kenapa Sandra tidak cerita sama Om?”
”Saya nggak tahu Om?Oh ya, sebelum Kak Sandra meninggal ia sempat menitipkan ini sama saya, katanya ini untuk Om!”
”Untuk saya?”
”Ya, ini Om !”ku berikan sebuah bungkusan yang dititipkan Kak Sandra kepadaku.
”Ini apa?”
”Ini amanat terakhir kak Sandra, Om! Sebelum dia meninggal,”
”Saya buka ya?”
”Terserah Om!”
Akhirnya Om Jeky pun segera membuka apa yang diberikan oleh Kak Sandra.Dan didalam bungkusan itu ada sebuah surat yang isinya adalah,
Untuk Ayahku tercinta,
Ayah, maafkan Sandra ya! Sandra tidak bermaksud untuk membohongi Ayah, tapi keadaan yang memaksa Sandra untuk berbohong. Seandainya dulu ayah tidak mengusir ibu dan tidak menelantarkan Sandra pasti semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin ayah menyesal, tapi penyesalan tidak akan mengubah takdirku, aku ingin ayah merawat ibu dengan baik. Sekarang ibu tinggal di Bumi Ayu, Jawa Barat.
Selamat tinggal ayah, aku berharap semoga ayah selalu berada di bawah lindungan-Nya. Jangan lupa sholat ya, yah!
Salam rindu,
Sandra Duaja.
Setelah Om Jeky membaca surat itu, dia segera mengambil sesuatu yang ada di dalam bungkusan tadi selain surat. Ternyata di dalam bungkusan itu ada sebuah boneka yang bertuliskan nama Sandra D.
”Sandraaaaaaaaaaa! Jangan tinggalin ayah!”Teriak Om Jeky.
Setelah Om Jeky membuka bungkusan yang diberikan Kak Sandra, aku pun segera membuka Bungkusan yang diberikan Kak Sandra kepadaku.Setelah aku membukanya, ternyata isinya adalah sebuah gaun yang berwarna biru langit. Di dalam bungkusan itu juga terdapat sepucuk surat yang isinya menyatakan bahwa aku harus merawat baju itu dengan baik, karena ia berkata bahwa di dalam baju itu terdapat jiwanya yang melekat begitu kuat. Setelah aku menanyakan tentang gaun itu kepada Om Jeky, ternyata baju itu adalah baju kesayangan Kak Sandra. Aku pun berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga dan merawat gaun biru itu.
* * *
Kami pun segera menuju ke pemakaman untuk mengubur jenazah Kak Sandra. Setelah proses pemakamannya selesai, aku, ayah & ibu, nenek & kakek serta Om Jeky tidak langsung pulang melainkan masih disana untuk melihat wajah terakhir Kak Sandra, walaupun hanya melihat tempat abadinya.
”Kak, maaafin Karin ya, nggak bisa temenin kakak disini”pintaku
”Sandra, maafin ayah, Ayah akan selalu ingat semua pesan-pesan kamu”
Setelah lama termenung, akhirnya kami pulang dengan membawa duka yang sangat berat.
Sekarang aku sadar, ternyata masalah keluarga Kak Sandra jauh lebih sulit daripada masalah keluargaku. Tak selamanya masalah itu berat, masalah akan terasa ringan jika kita merasakan ringan, tapi masalah akan terasa berat jika kita merasakan berat. Tuhan tidak akan memberi cobaan untuk umatnya diluar batas kemampuannya.
Sempat terfikir dalam benakku, Mengapa aku bisa bertemu dengan Kak Sandra tepat di hari kematiannya?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
MENURUT SAYA CERPENNYA SUDAH BAGUS,TAPI PERLU DIKEMBANGKAN LAGI YA?.......................
BalasHapusCerpennya buagus buanget tapi ada sedikit komplain nich! setelah kata"sandraaaaa" kasih spasi dong!!!!!!!!!!!
BalasHapusMENURUTKU SUDAH BAGUS TAPI...GERAKAN YANG DILAKUKAN PELAKU KURANG DITONJOLKAN,SEHINGGA PEMBACA KURANG TAHU LATAR DAN SANDIWARA GERAKAN TOKOHNYA.MAAF AKU CUMA BISA BERI NILAI 81.
BalasHapusMenurut saya cerpen kamu sudah cukup baik,Akku suka dengan ceritanya.
BalasHapuscuman yang saya ingin commend
Tentang ceritanya yang kadang - kadang cerita masalah satu belum selesai kok sudah pindah ke masalah yang lain.
Oh ya aku ingin menambahkan pada saat Sandra meninggal dirumah sakit kok nggak dijelaskan.Kamu hanya menonjolkan Ayah dan tokoh utamanya.
Semestinya kamu perlu juga menonjolkan Pas Sandra itu meninggal gimana - gimana...
Itulah commend dari saya mohon maaf jika ada kata - kata yang kurang berkenan di hati anda.
Semua itu saya lakukan hanya dengan niat untuk membangun.
Untuk cerpen kamu saya kasih nilai 70 deh.
cerpennya sudah bagus tapi ada cerita yang belum selesai perlu dilengkapi ocre.... nilainya 82
BalasHapusCerpen kamu sudah bagus. Hanya saja akan lebih bagus jika ditambahkan detail setting/latar.
BalasHapusSelain itu, gambaran tokoh agar tampak hidup dan berkarakter juga perlu dideskripsikan dengan lengkap.
Penggambaran tokoh bisa dilakukan dengan cara:
(1) dialog dengan tokoh lain
(2) komentar tokoh lain
(3) tingkahlaku tokoh
(4) pakaian tokoh
(5) apa yang dipikirkan tokoh, dll.
semoga bermanfaat.