u comment i follow

W3LC0M3 !N MY BL0G

My Zodi4k

My Zodi4k

Sabtu, 20 Juli 2013

..>>Untukmu<<..

Terpaku dalam kegundahan hati Terasa tak dapat ku lawan dengan jari-jari Tiada lagi tempat hari yang terasa ada Hanya lelah Lelah yang ku rasa…………… Andaikan waktu itu tak terjadi Mungkin hatiku takan remuk seperti ini Langkahku terhenti dalam kelamnya malam Mataku terhalang jurang yang dalam Pendengaranku sayup-sayup tak menentu Hatiku terombang ambing dalam ombak kemarahan Ragaku tak berkuasa untuk berfungsi Mungkin tiada lagi yang dapat terjadi saat ini Semangatku lemah hatiku susah Teringat malam itu yang menyakitkan Inikah kehidupan? Kurasa semua bukan seperti ini Mungkin masih ada titik terang Yang akan menyinari kegelapan hati Memberi pujian untuk diri sendiri Meredamkan semua yang ada saat ini Hingga aku dapat kembali ke kehidupan yang indah ini

Sabtu, 01 Juni 2013

Bukan salahmu mencintaiku


Bukan maksudku meninggalkanmu

Tapi apakah salah jika kita tak mesti bersama

Aku akan setia menunggu hingga kau kembali padaku

*courtesy of LirikLaguIndonesia.Net

Tak ingin menjadi rintang di hidupmu

Tetaplah engkau jalani apa yang kau mau



Tak ingin menjadi rintang di hidupmu

Tetaplah engkau jalani apa yang kau mau

Tak ingin menjadi lubang di langkahmu ooh

Tetaplah engkau jalani apa yang kau mau



Ku kan selalu menunggu dan aku selalu setia menunggu

Hingga kau kembali, hingga kau kembali

Hingga kembali di sisiku lagi

Jumat, 20 Mei 2011

Rabu, 01 September 2010

ARMADA BAND

ARMADA hanyalah nama baru di blantika musik Indonesia. Namun personelnya telah lama berkecimpung di dunia musik Indonesia. Terbentuk di Jakarta di pertengahan bulan Oktober 2007, band yang sebelumnya bernama Kertas ini telah meluncurkan album di tahun 2008 lalu berjudul "Balas Dendam" dengan hits single "Gagal Bercinta". musikji.net

Hits tersebut cukup mendapatkan tempat di hati para pecinta musik Indonesia,terbukti berhasil menduduki posisi bergengsi di banyak radio di seluruh Indonesia,dengan periode yang cukup lama.hal ini di karenakan karakter band ARMADA yang begitu kuat dan menyuguhkan aliran music yang Berbeda.

Aliran music yang diusung oleh Armada adalah "Melancholic Pop".Aliran ini di bangun oleh karakter suara sang vokalis dan aransemen music yang begitu terasa melancholic dengan sentuhan musik yang banyak di pengaruhi oleh band - band legendaris dunia seperti The Beatles ,Queen,The Police dan band legendaris dunia lainnya.

Band ini dimotori Andith (DRUM), Rizal (VOCAL), Endra' (BASS), Mai (GUITAR) dan Radha (GUITAR). Tahun 2009, Armada band merilis album kedua 'Hal Terbesar' dengan single andalan 'Buka Hatimu'. (emjhie)

Apakah benar Kertas Band yang sempat naik daun berubah nama? sebenarnya info ini saya dapat dari beberapa temen-temen blog. Sebelumnya aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas minatnya terhadap tulisan tentang Band Kertas di blog saya, tapi jadi biar lebih up date saya buatin thread baru. tapi tulisan ini bukan asli tulisan saya tapi dari temen-temen yang memberikan comment2 buat band kertas seperti mas Aribowo Sangkoyo seperti yang kutipannya mengenai perubahan nama band kertas :

Band Kertas adalah salah satu band yang bersinar dari Palembang, lagunya yang berjudul Kekasih yang tak dianggap menjadi hits hampir di semua pelosok Indonesia. Namun apa yang terjadi, band ini sama sekali tidak pernah merasakan hasilnya. Permasalahan yang bisa dibilang sangat klise ini, memang sering terjadi di Indonesia, Sebuah Label baru yang tidak tahu cara bekerja dengan baik memberikan janji-janji belaka terhadap musisi-musisi Indonesia yang mungkin untuk menembus Major label agak susah dikarenakan koneksi yang kurang kuat atau letak geografis yang jauh dari ibukota. Akibatnya lagu yang bagus terbuang percuma tanpa hasil. Dari Pihak personil band ini sudah mencoba untuk berunding dengan pihak label dan manajemen yang kebetulan satu atap, mereka meminta penjelasan atas semua tindakan yang telah dan akan dilakukan, seperti meminta laporan royalti dan pembayaran, fee dari show2 yang telah dilakukan namun tidak jelas kemana mengalir uangnya, rencana promosi yang tidak jelas, sampai kepada penggunaan lagu lagu dari Grup Band KERTAS tanpa seijin pencipta. Hal ini masih terjadi sampai sekarang, baru2 ini ada penayangan sebuah sinetron dengan soundtrack dari salah satu lagu KERTAS, dan penciptanya sama sekali tidak mengetahui apa2. Sedikit mendengar selentingan sampai labelnya memalsukan tanda tangan penciptanya.

Akhirnya band KERTAS mencoba untuk menyelesaikan perjanjian mereka dengan pihak label secara baik2, alhasil pihak label meminta ganti rugi sebesar 350 juta rupiah tanpa ada dasar yang jelas. Setelah melalui perundingan yang alot, pihak label akhirnya menggunakan jalur hukum dan mengadakan somasi terhadap Band KERTAS. Para personil band ini merasa ketakutan sekali jika harus berhadapan dengan hukum. Yang sangat membuat rumit masalahnya adalah Band KERTAS ini bukan dari kalangan orang yang berada, lagi2 orang kecil yang selalu ditindas dan akhirnya mendapatkan bantuan dari salah satu teman mereka di Palembang.

Pihak label semakin menggila dan meningkatkan tuntutan menjadi 1,3 milyar dengan anggapan mereka sudah dan akan merugi jika perjanjian batal. Sampai sekarang pun perkara ini masih berjalan di pengadilan negeri Jakarta Selatan, dengan pihak pembela Band KERTAS Pengacara Adnan Assegaf yang rela tidak dibayar sepeser pun karena merasa simpatik. Setelah dipertimbangkan cukup matang, dengan satu alasan yang kuat yaitu: jika harus sampai selesai dulu perkaranya dan baru merilis album lagi, mereka tidakdapat hidup. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengganti nama menjadi ARMADA dan terpaksa merubah formasi bandnya dikarenakan salah satu personilnya tidak kuat lagi menahan beban pikiran masalah ini. Terdengar sangat tragis memang, tapi ini kenyataan yang terjadi, mereka harus memulai dari awal lagi, dan hanya mencoba bertahan saja di Jakarta. Dibantu oleh Universal Music Indonesia untuk merilis album perdana dari Grup ARMADA ini.

Jika teman2 bisa merasakan juga, mungkin ini hanya salah satu dari sekian banyak musisi indonesia yang tertimpa masalah seperti ini. Atas kejadian ini saya memohon untuk perusahaan rekaman liar yang sekiranya belum begitu mengerti industri ini, Jangan membuat sengsara hidup orang lain! Dan untuk para musisi baru hendaknya selalu mengikuti perjalanan bisnis musik ini agar bisa meng-antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Kertas kemudian melejit menjadi salah satu band yang diperhitungkan di Palembang. Beberapa festival mereka ikuti dan hasilnya tidak mengecewakan. Dari beberapa prestasi yang mereka raih yakni, Rizal dinobatkan sebagai The Best Vocalist Festival Cyberb Tech Universitas Bina Dharma 2004 dan juga jadi finalis 3 Besar Dream Band 2005 untuk Daerah Jakarta dan Bandung.

Seiring dengan prestasi yang diraih, cukup banyak tawaran manggung. Sampai suatu ketika, saat mereka manggung di satu daerah di Sumatera, seorang produser dari Jakarta menawari mereka untuk rekaman album dan hijrah ke Jakarta.

Tawaran itu langsung mereka terima dan mereka pun ‘terbang’ ke Jakarta. Mereka merilis album perdana bertajuk “Kekasih Yang Tak Dianggap” pada November 2006 yang membuat band ini mendadak ngetop di blantika musik Indonesia. Penggarapan album perdana ini banyak dibantu musisi senior seperti Adith The Fly, Benny Vena, Ian Protonema, Heydie Ibrahim eks Power Slaves, DD Crow Roxx, dan Andy Juliet.

Euforia rekaman album perdana tersebut, membuat personel KERTAS Band terlena. Kontrak album tidak dipelajari dengan seksama, termasuk soal royalti dan pembagian honor manggung. Alhasil, ketika kemudian muncul pertanyaan soal itu, label “berkilah” sudah diatur semua di kontrak.

Kini, sembari menjalani proses hukum yang terjadi dengan label lamanya, anak-anak KERTAS Band mencoba “lahir” baru. Diawali dengan perubahan nama menjadi ARMADA Band. Sayangnya, karena “stres” lantaran menghadapi persoalan hukum, Argha memilih kembali ke Palembang. “Dia sedih banget, sampai akhirnya pilih balik ke Palembang,” jelas sang drumer, Andhit.

ARMADA langsung masuk ke manajemen baru. Tentu belajar dari pengalaman, kini mereka lebih berhati-hati membaca kontrak dan semua perjanjian yang menyangkut nasib band ini. “Kita sadar kok, kalau dengan ini artinya kita kembali lagi ke awal atau nol lagi,” kata Rizal. (sumber: hariansumutpos.com)

Minggu, 18 April 2010

SEINDAH SENTUHAN KASIH ( REVISI )

Karya Lis Dewi NB

Pagi ini terasa begitu cerah, matahari bersinar dengan bangganya, bunga- bunga bermekaran dan burung- burung mulai bernyanyi dengan suara merdunya. Dengan langkah pelan tapi pasti, ku langkahkan kakiku menuju Sanggar Seni Kasih Bunda yang dikelola oleh ibuku. Langkah kecil kaki ku membawaku ke tempat yang aku tuju. Dengan semangat yang besar, kuarungi berhektar- hektar area kebun teh yang ada di lereng bukit, melihat hijaunya daun teh, hatiku terasa sejuk. Tanpa kusadari, ternyata aku sudah sampai di Sanggar.

“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab teman- temanku yang tengah berlatih tari tradisional.
“Eh... Mbak Nilam, baru jam 8 kok sudah kesini?” tanya Sari, salah seorang pelatih sanggar seni ini.
“Iya nih, kok tumben ya aku datang ke sanggar ini pagi- pagi sekali!”
“Oh ya mbak, tadi ada seseorang yang mencari mbak Nilam, katanya sih ada sesuatu yang ingin dibicarakan!”
“Siapa?”
“Ehmm...siapa ya?”
“Masak kamu nggak tahu sih,”
“Aku tahu, tapi sayangnya aku lupa!”
“Lupa?”
“Oh...sekarang saya ingat, kalau nggak salah namanya Raka!”
“Raka?”
“Memangnya mbak kenal sama orang yang namanya Raka?”
“Ehmmm, kayaknya sih aku pernah dengar nama itu, tapi dimana ya?”
“Yah, mbak Nilam itu bagaimana sih, nama Raka kan banyak yang punya!”
“Oh iya ya!”
“Tapi orang tadi berpesan, kalau mbak mau ketemu sama dia, mbak Nilam pergi saja ke danau yang lokasinya nggak jauh dari kebun teh!”
“Aku sih ogah nemuin orang yang belum aku kenal, tapi kalau emang bener- bener penting gimana?”
“Mbak Nilam temuin aja!”
“Ehmmm, ya deh, daripada nanti nyesel!”

Aku pun segera pergi meninggalkan Sanggar, aku masih penasaran dengan orang yang namanya Raka itu.

* * *

Aku masih menyusuri kebun teh yang asri di lereng bukit yang tadi aku lewati, hanya saja arahnya yang berbeda. Di sepanjang perjalanan, hanya nama Raka yang ada di kepalaku. Kenapa nama itu sudah tidak asing lagi bagiku, kenapa saat aku mendengar nama itu, hatiku tersentak. Apakah karena aku pernah mengenal orang yang namanya Raka atau apakah memang benar itu hanya firasatku saja.
“Ya Allah, sebenarnya apa yang aku rasakan ini, kenapa aku merasakan ada sesuatu yang beda padaku?” batinku dalam hati.

* * *

Sesampainya di danau yang tadi dikatakan Sari, aku tidak melihat ada satu orang pun yang berada di danau itu. Aku pun berteriak memanggil nama Raka, aku pikir mungkin dia ada di dekat sini.

“Raka...Kamu dimana? Ini aku, Nilam!” teriakku dengan keras.

Karena tidak mendapat jawaban, aku pun duduk di sebuah kursi tua di pinggir danau.

“Raka...kamu dimana? sebenarnya apa mau kamu?” ucapku pelan.

Tak lama kemudian, ada seorang laki- laki menghampiri aku.Aku pun tersentak kaget, siapa orang itu dan kenapa dia menghampiri aku, apakah dia Raka?

“Hai, Nil!” sapanya.
“Kamu siapa?”
“Aku...”
“Raka?” ucapku pelan.
“Sorry aku bukan Raka, aku Dimas, sahabat Raka!” katanya pelan.
“Dimas? Tapi tadi kamu bilang kan kamu Raka?”
“Nilam, maafin aku ya! Aku nggak mau kamu tahu siapa aku, aku hanya ingin menyampaikan suatu amanat dari sahabatmu Raka,”
”Maksud kamu apa? Kenapa kamu ngomomng gini sama aku?”
“Nilam, kamu masih ingat kan sama Raka?”
“Raka? Siapa Raka?”
“Kamu ini kenapa, Lam, kenapa kamu bisa lupa sama Raka, sahabat kamu sendiri? Tapi kamu inget kan sama aku?”
“Kenal sama kamu, gimana caranya aku bisa kenal sama kamu kalau kita saja baru ketemu hari ini?”
“Jadi kamu emang nggak kenal sama aku?”
“Ya iyalah, kenal darimana coba?”
“Kamu ini kenapa, Nil?”
“Kenapa apanya?”
“Ya kenapa kamu bisa lupa sama Raka, aku dan mungkin juga temen- temen kamu yang lain”
“Kamu ini kenapa sih, Dim? Kenapa kamu kayak maksa gitu sama aku,”
“Nggak! Nil, bukan itu maksud aku, aku Cuma mau kamu tahu aja kalau dulu kamu pernah sahabatan sama orang yang namanya Raka! Klau kamu nggak percaya, lihat foto ini!” pinta Raka, sambil melihatkan foto yang ia bawa.

Aku pun segera menatap foto yang Dimas maksud.

“Aduh, kepalaku pusing!”
“Kenapa, Nil?”
”Dim, sebenarnya apa yang terjadi sama aku, kenapa kepelaku terasa pening?”

“Memang kamu itu kenapa, kenapa kamu bisa lupa sama aku dan Raka?”
“Dulu, sekitar 1 tahun yang lalu aku pernah kecelakaan, dan kecelakaan itulah yang merubah hidupku!”
”Jadi kamu lupa sama aku bukan karena kamu sudah lupa sama aku, tapi karena kamu amnesia?”
“Yah seperti itulah kebenarannya!”

Tapi tak tahu kenapa aku menjadi terbayang- bayang masa laluku. Aku teringat akan suatu hal yang dulu pernah aku jalani.

* * *

Malam itu terasa gelap gulita, seperti tanpa sinar rembulan. Ku torehkan sebuah tulisan diatas buku, karena terlalu banyak PR yang harus ku kerjakan. Hari sudah malam jam sudah menunjuk ke angka 11, segera ku baringkan tubuhku ke atas ranjang. Aku berharap, semoga aku bisa bangun lebih awal agar aku bisa mengerjakan tugas untuk persiapan Baksos.

Pagi telah tiba, segera kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat, segera kukerjakan tugas untuk persiapan Baksos. Setelah selesai mengerjakan tugas, aku segera mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah. Karena hari ini adalah hari pelakanaan Baksos dan aku adalah wakil OSIS aku harus segera berangkat ke sekolah untuk menyiapkan semuanya agar pelaksanaan Baksos kali ini bisa berjalan dengan lancar.

* * *

Sesampainya di sekolah ( SMAN 14 Bandung ), aku langsung berjalan menuju ruang pertemuan OSIS. Dan aku tersentak kaget ketika aku melihat teman- temanku sesama pengurus OSIS sudah duduk manis di kursi masing- masing. Ku lihat satu bangku yang kosong, dan bangku itu adalah bangkuku.

“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab mereka serentak.
“Maaf teman- teman, aku terlambat!”
“Nggak apa- apa, Nil!” jawab Dimas, Ketua OSIS di sekolahku.
“Kalian nggak marah sama aku?”
“Ngapain harus marah, kan kamu Cuma telat 1 menit!” jawab Dimas lagi.
“Makasih ya!”
“Sama- sama, ayo duduk, kita akan segera memulai meeting kita!”
“Ok! Sekarang saya akan mempresentasikan hasil tugas yang sudah saya rangkum!”
“Silakan!”
“Terima Kasih! Teman- teman, acara bakti sosial kali ini akan kita laksanakan di sebuah sekolah kecil di perkampungan dekat Pasar Baru. Untuk menunjang pelaksanakan bakti sosial kali ini, dibutuhkan biaya sekitar Rp 5.000.000,00¬- untuk membeli peralatan sekolah, seperti buku, pen, pensil, penghapus, black board, dan yang lainnya. Dan menurut catatan dalam buku keuangan, uang yang terkumpul baru Rp 2.457.000,00-, jadi saya berharap ada salah seorang relawan yang mau menyumbangkan sebagian hartanya untuk melengkapi kekurangannya.”
“Tapi siapa, Nil?” tanya Kevin.
“Saya yang akan menambah kekurangan biaya untuk acara Baksos kali ini,” suara itu keluar dari mulut seorang lelaki yang duduk di depanku.
“Raka...! kamu yakin?” kagetku.
“Iya, saya yakin!”
“Alhamdulillah, rupanya masih ada orang yang sebaik Raka!”

Setelah semua biaya terkumpul, kita segera menuju ke tempat yang sudah kita rencanakan.

* * *

Sesampainya di sekolah kecil yang dimaksud, kita segera masuk dan memberikan sebuah peralatan sekolah untuk menunjang keberhasilan dari sekolah kecil tersebut.

“Terima kasih, mbak! semoga apa yang mbak kasih bisa bermanfaat bagi anak- anak disini!” kata salah seorang pengajar di sekolah kecil tersebut.
“Sama- sama, bu!” jawab Artini, bendahara OSIS.

Setelah lama kita ngobrol dengan para pengajar dan murid- murid di sekolah kecil itu, kita berpamitan pulang.

“Bu, kita pulang dulu ya!”
“Iya, neng. Saya berharap semoga tuhan membalas kebaikan kalian semua!”
“Aminnnnnnnnnnnnnnnnnn!”
“Wah, aminnya kok sepanjang rel kereta api jurusan Singapura sih?”
“Ah ibu, sukanya bercanda aja! mana ada sih kereta jurusan Singapura?” jawabku.
“Kami pulang dulu ya, bu?” pinta Beno, bendahara OSIS.
“Sekali lagi terimakasih ya, dek!”
“Ya, bu, sama- sama!”

* * *

Aku pun segera terbangun dari lamunanku, aku baru sadar kalau dulu aku pernah mengenal sosok seorang Raka.

“Dim, tolong sampaiin maaf aku untuk Raka ya! Aku nggak tahu kalau dulu kamu dan Raka pernah jadi temen aku!”
“Oh,i i iya!”
“Sudah, Cuma itu aja ya yang mau kamu katakan padaku?”
“Oh, nggak masih ada, tapi aku minta kamu nggak marah ya, kalau aku kasih kamu sesuatu,”
“Ya nggaklah, ngapain harus marah, kan niatnya baik!”
“Ini untuk kamu,”
“Apaan nih?”
“Ini surat terakhir yang dibuat Raka untuk kamu,”
“Aku baca ya?”
“Baca aja!”


Akupun segera membaca surat yang diberikan Dimas padaku.

Dear my best Friend, Nilam

Nilam, andai kau tahu segenap rasa sayangku padamu, sesuci perasaankuku padamu, dan seputih rangkaian kasih untukmu. Aku tahu kamu pasti sedih setelah membaca surat ini, tapi apa daya aku harus jujur.
Ku tuliskan sebuah puisi untukmu, segenap rasa sayangku untukmu hanya kau anggap sebatas seorang sahabat, tapi tidak untukku, kamu jauh lebih berharga dari apapun yang aku miliki. Jauh di lubuk hatiku aku memendam perasaan ini, tapi di relung hatiku aku tak mau membuat hatimu terluka karena diriku.
Aku berharap kamu akan terus menyimpan surat ini sampai kapanpun, karena aku akan pergi jauh darimu.Jika kau terluka setelah membaca surat ini, bakarlah surat ini karena aku yakin kamu akan jauh lebih baik dari sekarang ini.
Seharusnya dulu aku tidak meninggalkanmu sendiri, pasti persahabatan kita akan jauh lebih baik dan karna perasaanku yang tidak menentu ini kau jadi hancur.

I WILL ALWAYS MISS YOU In MY WORLD

Your best Friend


Raka

Setelah selesai membaca surat dari Raka, hatiku tersentak kaget. Aku tak pernah tahu apa maksud Raka memberiku surat itu.

“Dim, apa maksud dari surat ini, jujur aku nggak tahu apa maksudnya?”
“Kamu tahu kan kalau kamu itu pernah dekat sama Raka, dia itu menganggapmu lebih dari seorang sahabat. Tapi sebuah kecelakaan yang terjadi pada tanggal 18 Agustus 2008 merenggut semua perasaan yang ia simpan selama itu, jadi sekarang kamu tahu kan pa maksud dari surat itu?”
“Sekarang aku tahu apa yang selama ini dirasakan Raka, aku tahu kalau selama ini dia suka sama aku!”

Dimas pun segera pergi meninggalkanku sendiri di danau itu.Aku pun juga segera bergegas pulang, dengan perasaan yang nggak pernah aku rasain selama aku hidup.

Aku berjanji kalau aku akan selalu menjadi yang terbaik untuknya. Tapi aku akan berusaha mengubur semua bayangnya dan cerita tentang dirinya. Karena aku yakin, masa depanku akan jauh lebih cerah. Sekarang aku bisa hidup lebih tenang tanpa bayang- bayang Raka.

Rabu, 07 April 2010

SEINDAH SENTUHAN KASIH ( SIKLUS 3 )

Karya Lis Dewi NB.

Pagi ini terasa begitu cerah, matahari bersinar dengan bangganya, bunga- bunga bermekaran dan burung- burung mulai bernyanyi dengan suara merdunya. Dengan langkah pelan tapi pasti, ku langkahkan kakiku menuju Sanggar Seni Kasih Bunda milik ibuku. Langkah kecil kaki ku membawaku ke tempat yang aku tuju. Dengan semangat yang besar, kuarungi berhektar- hektar area kebun teh yang ada di lereng bukit, melihat hijaunya daun teh, hatiku terasa sejuk. Tanpa kusadari, ternyata aku sudah sampai di Sanggar Seni Kasih Bunda.

“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab teman- temanku yang tengah berlatih tari tradisional.
“Eh... Mbak Nilam, baru jam 8 kok sudah kesini?” tanya Sari, salah seorang pelatih sanggar seni ini.
“Iya nih, kok tumben ya aku datang ke sanggar ini pagi- pagi sekali!”
“Oh ya mbak, tadi ada seseorang yang mencari mbak Nilam, katanya sih ada sesuatu yang ingin dibicarakan!”
“Siapa?”
“Eh...siapa ya?”
“Masak kamu nggak tahu sih,”
“Aku tahu, tapi sayangnya aku lupa!”
“Lupa?”
“Oh...sekarang saya ingat, kalau nggak salah namanya Raka!”
“Raka?”
“Memangnya mbak kenal sama orang yang namanya Raka?”
“Ehmmm, kayaknya sih aku pernah dengar nama itu, tapi dimana ya?”
“Yah, mbak Nilam itu bagaimana sih, nama Raka kan banyak yang punya!”
“Oh iya ya!”
“Tapi kalau mbak Nilam mau nemuin orang itu, mbak Nilam pergi saja ke danau dekat kebun teh!”
“Aku sih ogah nemuin orang yang belum aku kenal, tapi kalau emang bener- bener penting gimana?”
“Mbak Nilam temuin aja!”
“Ehmmm, ya deh, daripada nanti nyesel!”

Aku pun segera pergi meninggalkan Sanggar, aku masih penasaran dengan orang yang namanya Raka itu.

* * *

Aku masih menyusuri kebun teh yang asri di lereng bukit yang tadi aku lewati, hanya saja arahnya yang berbeda. Di sepanjang perjalanan, hanya nama Raka yang ada di kepalaku. Kenapa nama itu sudah tidak asing lagi bagiku, kenapa saat aku mendengar nama itu, hatiku tersentak. Apakah karena aku pernah mengenal orang yang namanya Raka atau apakah memang benar itu hanya firasatku saja.
“Ya Allah, sebenarnya apa yang aku rasakan ini, kenapa aku merasakan ada sesuatu yang berbeda padaku?” batinku dalam hati.

* * *

Sesampainya di danau yang tadi dikatakan Sari, aku tidak melihat ada satu orang pun yang berada di danau itu. Aku pun berteriak memanggil nama Raka, aku pikir mungkin dia ada di dekat sini.

“Raka...Kamu dimana? Ini aku, Nilam!” teriakku dengan keras.

Karena tidak mendapat jawaban, aku pun duduk di sebuah kursi tua di pinggir danau.

“Raka...kamu dimana? sebenarnya apa mau kamu? kenapa kamu mempermainkan aku seperti ini?” ucapku pelan.

Tak lama kemudian, ada seorang laki- laki menghampiri aku.Aku pun tersentak kaget, siapa orang itu dan kenapa dia menghampiri aku, apakah dia Raka?

“Hai, Nil!” sapanya.
“Kamu siapa?”
“Aku...”
“Raka!” ucap kita bersamaan.
“Jadi bener, kamu yang mencari aku di Sanggar Seni Kasih Bunda?” tanyaku pelan.
“Iya, gimana kabar kamu?”
“Sebentar- sebentar, kamu itu siapa dan kenapa kamu mencariaku?”
“Nilam!”
“Kenapa kamu kaget?”
“Kamu nggak kenal sama aku?”
“Kenal sama kamu, gimana caranya aku bisa kenal sama kamu kalau kita saja baru ketemu hari ini?”
“Jadi kamu emang nggak kenal sama aku?”
“Ya iyalah, kenal darimana coba?”
“Kamu ini kenapa, Nil?”
“Kenapa apanya?”
“Ya kenapa kamu bisa lupa sama aku, kamu tahu nggak kalau kita pernah...”
“Pernah apa?”
“Nggak! Nil, coba kamu lihat mataku! Apakah kamu merasa kalau kita pernah deket?”

Aku pun segera menatap matanya dalam- dalam, kenapa saat aku menatap matanya ada sesuatu yang mengingatkanku pada masa laluku.

“Aduh, kepalaku pusing!”
“Kenapa, Nil?”
“Ka, aku memang ngerasain kalau kita itu pernah kenal!”
“Memang kamu itu kenapa, kenapa kamu bisa lupa sama aku?”
“Dulu, sekitar 1 tahun yang lalu aku pernah kecelakaan, dan kecelakaan itulah yang merubah hidupku!””Jadi kamu lupa sama aku bukan karena kamu sudah lupa sama aku, tapi karena kamu amnesia?”
“Yah seperti itulah kebenarannya!”

Tapi tak tahu kenapa aku menjadi terbayang- bayang masa laluku. Aku teringat akan suatu hal yang dulu pernah aku jalani.

* * *

Malam itu terasa gelap gulita, seperti tanpa sinar rembulan. Ku torehkan sebuah tulisan diatas buku, karena terlalu banyak PR yang harus ku kerjakan. Hari sudah malam jam sudah menunjuk ke angka 11, segera ku baringkan tubuhku ke atas ranjang. Aku berharap, semoga aku bisa bangun lebih awal agar aku bisa mengerjakan tugas untuk persiapan Baksos.

Pagi telah tiba, segera kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat, segera kukerjakan tugas untuk persiapan Baksos. Setelah selesai mengerjakan tugas, aku segera mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah. Karena hari ini adalah hari pelakanaan Baksos dan aku adalah wakil OSIS aku harus segera berangkat ke sekolah untuk menyiapkan semuanya agar pelaksanaan Baksos kali ini bisa berjalan dengan lancar.

* * *

Sesampainya di sekolah ( SMAN 14 Bandung ), aku langsung berjalan menuju ruang pertemuan OSIS. Dan aku tersentak kaget ketika aku melihat teman- temanku sesama pengurus OSIS sudah duduk manis di kursi masing- masing. Ku lihat satu bangku yang kosong, dan bangku itu adalah bangkuku.

“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab mereka serentak.
“Maaf teman- teman, aku terlambat!”
“Nggak apa- apa, Nil!” jawab Kevin, Ketua OSIS di sekolahku.
“Kalian nggak marah sama aku?”
“Ngapain harus marah, kan kamu Cuma telat 1 menit!” jawab Kevin lagi.
“Makasih ya!”
“Sama- sama, ayo duduk, kita akan segera memulai meeting kita!”
“Ok! Sekarang saya akan mempresentasikan hasil tugas yang sudah saya rangkum!”
“Silakan!”
“Terima Kasih! Teman- teman, acara bakti sosial kali ini akan kita laksanakan di sebuah sekolah kecil di perkampungan dekat Pasar Baru. Untuk menunjang pelaksanakan bakti sosial kali ini, dibutuhkan biaya sekitar Rp 5.000.000,00­- untuk membeli peralatan sekolah, seperti buku, pen, pensil, penghapus, black board, dan yang lainnya. Dan menurut catatan dalam buku keuangan, uang yang terkumpul baru Rp 2.457.000,00-, jadi saya berharap ada salah seorang relawan yang mau menyumbangkan sebagian hartanya untuk melengkapi kekurangannya.”
“Tapi siapa, Nil?” tanya Kevin.
“Saya yang akan menambah kekurangan biaya untuk acara Baksos kali ini,” suara itu keluar dari mulut seorang lelaki yang duduk di depanku.
“Raka...! kamu yakin?” kagetku.
“Iya, saya yakin!”
“Alhamdulillah, rupanya masih ada orang yang sebaik Raka!”

Setelah semua biaya terkumpul, kita segera menuju ke tempat yang sudah kita rencanakan.

* * *

Sesampainya di sekolah kecil yang dimaksud, kita segera masuk dan memberikan sebuah peralatan sekolah untuk menunjang keberhasilan dari sekolah kecil tersebut.

“Terima kasih, mbak! semoga apa yang mbak kasih bisa bermanfaat bagi anak- anak disini!” kata salah seorang pengajar di sekolah kecil tersebut.
“Sama- sama, bu!” jawab Artini, bendahara OSIS.

Setelah lama kita ngobrol dengan para pengajar dan murid- murid di sekolah kecil itu, kita berpamitan pulang.

“Bu, kita pulang dulu ya!”
“Iya, neng. Saya berharap semoga tuhan membalas kebaikan kalian semua!”
“Aminnnnnnnnnnnnnnnnnn!”
“Wah, aminnya kok sepanjang rel kereta api jurusan Singapura sih?”
“Ah ibu, sukanya bercanda aja! mana ada sih kereta jurusan Singapura?” jawabku.
“Kami pulang dulu ya, bu?” pinta Beno, bendahara OSIS.
“Sekali lagi terimakasih ya, dek!”
“Ya, bu, sama- sama!”

* * *

Aku pun segera terbangun dari lamunanku, aku baru sadar kalau dulu aku pernah mengenal sosok seorang Raka.

“Rak, maafin aku ya! aku nggak tahu kalau dulu kamu pernah jadi sahabat aku!”
“Sahabat?”
“Iya sahabat, bukannya kamu itu sahabat aku?”
“Oh,i i iya!”
“Kamu mau kan bantu aku untuk mengingat masa laluku!”
“Ok! my best friend!”

Walaupun aku tak pernah tahu apa yang dirasakan Raka, tapi aku tahu perasaannya padaku. Tatapan matanya yang tajam selalu membuat hatiku bergetar. Andai aku bisa menyentuhnya dengan segenggam perasaan yang nyata.

“Nil, maafin aku karena aku akan jauh meninggalkanmu disini!”
“Pergi jauh kemana?”
“Pokoknya jauh, jauh dari duniaku sekarang ini,”
“Kamu yakin, nggak akan kembali lagi ke kampung ini?”
“Insyaallah, aku yakin!”
“Tapi kamu nggak akan ngelupain aku kan?”
“Ya nggak lah, masak aku ngelupain sahabat aku sendiri sih!”
“Raka!”
“Kamu nggak usah sedih, aku akan selalu menunggumu. Mungkin jika aku ditakdirkan masih bisa melihat senyumanmu yang manis, aku akan kembali untukmu. Jika kamu mendapat suatu firasat yang menandakan aku akan pulang, tunggu saja aku di danau ini!”
“Hanya itu?”
“Yah. Nil, aku pulang dulu ya!”
“Hati- hati di jalan ya!”
“Ok!”

Raka pun segera pergi meninggalkan ku di danau itu. Setelah bayangan Raka menghilang ku temukan sebuah surat. Kubuka pelan surat itu, dan kemudian kubaca.Isi surat itu adalah

Dear my best Friend, Nilam

Nilam, andai kau tahu segenap rasa sayangku padamu, sesuci perasaankuku padamu, dan seputih rangkaian kasih untukmu. Aku tahu kamu pasti sedih setelah membaca surat ini, tapi apa daya aku harus jujur.
Ku tuliskan sebuah puisi untukmu, segenap rasa sayangku untukmu hanya kau anggap sebatas seorang sahabat, tapi tidak untukku, kamu jauh lebih berharga dari apapun yang aku miliki. Jauh di lubuk hatiku aku memendam perasaan ini, tapi di relung hatiku aku tak mau membuat hatimu terluka karena diriku.
Aku berharap kamu akan terus menyimpan surat ini sampai kapanpun, karena aku akan pergi jauh darimu.Jika kau terluka setelah membaca surat ini, bakarlah surat ini karena aku yakin kamu akan jauh lebih baik dari sekarang ini.
Seharusnya dulu aku tidak meninggalkanmu sendiri, pasti persahabatan kita akan jauh lebih baik dan karna perasaanku yang tidak menentu ini kau jadi hancur.

I WILL ALWAYS LOVE YOU In MY WORLD

Your best Friend


Raka

Setelah selesai membaca surat dari Raka, hatiku pun seraya ingin menangis. Tapi aku sadar tangisku itu sudah tidak berarti lagi.

Selama berbulan- bulan, bahkan bertahun- tahun kutunggui Raka di danau tempat terakhir kita bertemu, tapi tak kunjung- kunjung datang. Akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak terlalu berharap kalau Raka akan kembali.

Aku berjanji kalau aku akan selalu menjadi yang terbaik untuknya. Tapi aku akan berusaha mengubur semua bayangnya dan cerita tentang dirinya. Karena aku yakin, masa depanku akan jauh lebih cerah. Sekarang aku bisa hidup lebih tenang tanpa bayang- bayang Raka.

Kamis, 18 Maret 2010

GAUN BIRU (SIKLUS 2) Revisi

Karya Lis Dewi NB

Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku, selama ini aku hanya bisa terdiam melihat kedua orang tuaku bertengkar. Sebenarnya aku ingin sekali melihat kedua orang tuaku itu damai, tapi apa daya aku hanyalah anak ingusan yang masih duduk di bangku SMP kelas IX. Sekarang ini aku tinggal bersama nenekku, kalian tahu, kenapa aku lebih memilih tinggal bersama nenekku? Yah, pastinya kalian sudah tahu apa sebabnya. Aku sudah tidak betah melihat kedua orang tuaku selalu bertengkar dan bertengkar.Hari-hari ku lewati dengan penuh rasa khawatir, bagaimana jika seandainya aku dan kedua orang tuaku dipisahkan dengan sebuah perceraian. Seandainya aku punya teman yang bisa membantuku menyelesaikan masalahku, mungkin aku bisa lebih lega karena punya teman curhat.

Hari ini aku berangkat ke sekolah, tanpa kusadari ternyata yang aku pakai adalah kaos kaki hitam, padahal hari ini adalah hari senin, akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang untuk ganti kaos kaki. Karena hal itulah aku jadi terlambat masuk sekolah. Sampai disana ternyata upacara hari senin sudah dimulai, padahal aku diberi tugas untuk menjadi pengibar bendera. Kalian pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi padaku. Aku dihukum Pak Mamat untuk berjemur di lapangan sampai jam istirahat selesai.
Ini baru yang pertama, kesialan mungkin sudah berpihak kepadaku. Saat hukumanku sudah selesai, aku mulai beranjak pergi dari tempat yang panas itu, dan saat aku naik ke tangga kakiku terpeleset dan akhirnya aku pun tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya padaku. Saat aku sadar, aku sudah berada di ruang UKS. Oh ya, aku kan belum kasih tahu kalian siapa aku dan dimana aku sekolah. Namaku Karina Anastasia Ulfa, sekarang aku sekolah di SMPN 2 Cikantul, Jawa Barat. Nggak tahu kenapa aku jadi merasa minder saat bicara dengan teman-temanku, mungkin karena aku punya masalah yang sangat berat.

* * *

Sekarang adalah hari yang paling aku tunggu, kalian pasti tahu kan kenapa aku senang sekali, soalnya hari ini itu hari libur, libur Semester 1.

”Rin, liburan ini kamu mau kemana?” tanya Rinka padaku.
”Aku mau ke rumah orang tuaku di Jakarta, soalnya aku sudah rindu banget sama mereka!”
”Ya udah deh kalau gitu, sebenarnya aku mau ajak kamu liburan ke puncak”
”Kamu marah ya, jangan marah ya, oke kapan- kapan aku ikut kamu deh, ya!” pintaku.
”Aku nggak marah, aku cuma kecewa saja sama kamu, padahal ini kesempatan kita untuk refreshing bersama,”

Aku pun segera pulang, tapi tak tahu kenapa aku selalu terbayang- bayang wajah kedua orang tuaku, wajah itu begitu jelas tampak sangat jelas dalam pikiranku.

* * *

Sesampainya di rumah nenek, aku segera memasukkan semua baju yang akan aku bawa, termasuk baju faforitku, yaitu baju berwarna putih kelabu. yang dulu aku beli bersama kedua orang tuaku. Setelah selesai memasukkan baju kedalam koperku, aku segera pergi menghampiri nenek untuk berpamitan.

“Nek, Karin sudah kangen banget sama ayah dan ibu, Karin boleh kan pergi ke Jakarta!” pintaku pada nenek.
“Kamu itu cucu nenek yang paling nenek sayang, nenek ingin agar kamu tetap disini menemani nenek. Jadi, nenek harap kamu disini saja!”
“Tapi nek, sudah lama sekali Karin nggak ketemu sama ayah dan ibu. Coba nenek pikir, kalau nenek nggak ketemu sama orang tua nenek selama bertahun- tahun, pasti nenek kangen banget kan sama mereka!”
“Sudah, Rin. Kalau kamu bersikukuh untuk bertemu dengan orang tua kamu nenek tidak melarang, tapi ingat! Kamu tidak akan nenek anggap lagi sebagai cucu nenek”
“Nenek jahat! Nenek nggak pernah ngertiin perasaan Karin,”
“Bukan itu maksud nenek, nenek hanya ingin melindungi kamu dari orang- orang yang tidak bermoral seperti kedua orang tuamu itu!”
“Alah itu cuma alas an nenek saja kan, agar aku nggak pergi ke Jakarta!”
“Kalau memang itu pendapat kamu, ya sudah tidak apa-apa, tapi harus kamu ingat, suatu saat nanti kamu akan tahu mengapa nenek melarang kamu pergi ke Jakarta sendirian!”
“Tapi,”

Aku berlari ke kamar, aku tak pernah menyangka jika nenek akan melarangku pergi ke Jakarta. Aku menangis, tanpa kusadari aku tertidur sampai esok hari tiba.

Pagi telah tiba, kabut putih mulai menyelimuti rumah nenek. Ku angkat tubuhku pelan-pelan, tapi tak tahu kenapa kepalaku terasa pening. Akupun segera menghampiri nenek yang sedang berada di dapur. Ku cium aroma masakan nenek, sedaaaaap!

“Wah, masak apa nih, nek? Harum banget,”
“Sudah nggak marah nih?”
“Emang siapa yang marah!”
“Kamu jadi ke Jakarta?”
“Nggak ah, aku nggak mau ke Jakarta,”
“Bener nggak jadi?”
“Ehmmmm, tapi kalau nenek ngijinin Karin jadi kok ke Jakarta,”
“Nenek ijinin kamu pergi ke Jakarta, asal kamu bisa jaga diri saja!”
“Ahh, nenek baik deh!”
“Sana cepat! nenek sudah memesan tiket untuk kamu, dan pesawat yang akan kamu tumpangi itu akan berangkat tepat pukul 10.00!”
“Tapi bagaimana dengan nenek?”
“Kamu nggak usah mikirin nenek, nenek nggak apa-apa di rumah sendiri,”
“Makasih ya, nek!”
“Sana cepat nanti terlambat lho!”

Aku pun segera berkemas, dengan semangat menyala- nyala ku langkahkan kakiku untuk mencari taksi yang mau mengantarku ke Bandara.

* * *

Sesampainya di Bandara, aku segera mencari pesawat yang akan akau tumpangi. Aku tersentak kaget ketika seorang perempuan yang masih muda menghampiri aku.

”OMG, anda sipa ya?” tanyaku tergesa- gesa.
”Masak kamu lupa sih sama kakak sendiri?” jawabnya halus.
”Oh, ini Kak Sandra ya?””
”Ya, tuh ingat!”
”Aduuuuh, Kak Sandra ngaget- ngagetin orang saja deh!”
“Kaget ya?”
“Ya iyalah, secara dikagetin gitu, siapa sih orang yang kalau dikagetin nggak kaget?”
“Ada lho,”
“Emang bener, ada?”
“Ya iyalah!”
“Siapa?”
“Nggak tahu, tapi kan emang bener- bener ada!”
“Ya ya percaya deh!”
“Kamu mau ke Jakarta kan?”
“Kok kakak tahu? Tahu darimana?”
“Dari nenek, pasti kamu maksa nenek kan agar dibplehin pergi ke Jakarta?”
“Siapa yang maksa?”
“Kamu!”
“Nenek bohong tuh!”
“Ah, kamu itu, Rin! Tapi bener kan kalau kamu maksa nenek agar diperbolehkan pergi ke Jakarta?”
“Ya deh, tapi ngomong- ngomong kakak mau kemana?”
“Kakak juga mau ke Jakarta, sama kayak kamu,”
“Wah, jadi punya temen deh!”
“Seneng ya?”
“Ya iyalah, masak punya temen malah sedih sih!”
“Rin, kamu mau nggak bantuin kakak?”
“Bantuin apa, kak?”
“Seandainya ini hari terakhir kakak, kamu mau kan memberikan ini sama ayahku!”
“Kakak kok bicara gitu sih, aku jadi takut nih!”
“Memangnya kamu takut kenapa? Kan kakak cuma bilang seandainya!”
“Tapi apa yang kakak katakan itu bisa jadi kenyataan jika ada malaikat lewat lho!”
“Ah, kamu, Rin! Ada- ada saja,”
“Nih ambil!”
“Lho kok dua sih! Emangnya yang satunya lagi untuk siapa?”
“Yang ini untuk ayah, dan yang ini untuk kamu,”
“Ini apa, kak?”
“Ini hanya hadiah saja untuk kamu karena kamu sudah mendapat nilai yang bagus!”
“Kakak tahu darimana kalau aku dapat nilai yang bagus?”
“Dari nenek!”
“Dasar nenek, pasti nenek cerita banyak ya soal Karin?”
“Nggak kok, nenek cuma cerita soal Karin mau pergi ke Jakarta dan soal Karin mendapat nilai yang bagus, itu saja kok!”
“Yuk kita masuk!” ajakku.

Lama sudah kita berbincang- bincang, tak terasa waktu sudah menunjuk ke angka 10. Pesawat yang kita tumpangi segera tinggal landas.Di dalam pesawat, aku merasakan begitu dekat dengan Kak Sandra.Karena terlalu lama diam, aku pun tertidur. 2 jam telah berlalu, kudengar suara seseorang memanggilku. Suara itu adalah suara Kak Sandra, karena kaget aku pun terbangun dari tidurku. Kuambil koperku dan beranjak turun dari pesawat itu.

* * *

Aku dan Kak Sandra beranjak pergi. Sesampainya di ruang pemeriksaan, tiba- tiba Kak Sandra duduk termenung di sebuah kursi. Kulihat wajahnya begitu pucat pasi, sempat terlintas dibenakku pikiran- pikiran kotor tentang Kak Sandra. Mungkin karena terlalu lama melamun, aku tidak melihat kalau Kak Sandra ternyata pinsan. Setelah aku tersadar, kubangunkan Kak Sandra dengan hati- hati.Karena tidak mendapat respon, aku segera membawanya ke rumah sakit, karena aku pikir dia sedang sakit.

* * *
Sesampainya di rumah sakit, Kupanggil para perawat untuk membawa Kak Sandra ke ruang rawat. Mengapa kata- kata Kak Sandra selalu terngiang di telingaku.Aku tak kuat melihat Kak Sandra terbaring lemah di tempat tidur, sedikit- sedikit kuintip tubuh Kak Sandra dari kaca pintu kamar itu. Setelah lama dokter memeriksa Kak Sandra, dokter keluar dengan membawa berita yang sangat aku tunggu- tunggu.

”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?” tanyaku dengan penuh harap.
”Ternyata setelah kami periksa, kakak anda menderita penyakit kanker hati stadium 4!”
”Apaa?kanker hati?” aku tersentak kaget setelah mendengar pernyataan dokter bahwa Kak Sandra menderita penyakit kanker hati.

Akupun segera masuk ke kamar dimana Kak Sandra dirawat. Aku sedih sekali, kenapa harus Kak Sandra yang menderita penyakit kronis itu, kenapa bukan aku saja atau yang lainnya? Itu semua hanya Allah yang tahu.Karena sangking takutnya, aku berfikir kenapa aku nggak ke masjid saja, disana aku dapat berdo’a memohon kepada-Nya agar Kak Sandra bisa sembuh dari penyakitnya.Aku pun beranjak pergi ke masjid, dengan penuh harap kulangkahkan kakiku menuju sebuah masjid dekat rumah sakit dimana Kak Sandra dirawat.

* * *

Setelah sampai di masjid, kulangkahkan kakiku untuk mengambil air wudhu agar aku bisa segera bersimpuh dihadapan-Nya. Aku pun berdo’a dengan sangat, tanpa kusadari air mata yang menjadi tanda ketegaranku jatuh mengalir.

”Ya Allah, Sembuhkanlah penyakit Kak Sandra, aku ingin agar aku bisa selalu melihat senyumnya, candanya, dan tawanya !”

Setelah lama berdo’a, terlintas dalam benakku bayangan Kak Sandra yang seakan- akan memanggilku untuk segera datang ke rumah sakit. Aku pun berlari secepat mungkin agar aku bisa segera menemui Kak Sandra.

* * *

Aku berlari menuju ke kamar tempat dimana Kak Sandra dirawat. Sesampainya di kamar itu, kulihat tubuh Kak Sandra yang tengah terbujur kaku diatas ranjang. Aku tersentak kaget, dengan refleksnya kuhampiri Kak Sandra dengan penuh rasa khawatir.

”Kak, Kakak bangun, ini Karin, Kakak bangun dong!” teriakku sambil menggoyang- goyangkan tubuh Kak Sandra.

Karena tidak mendapat respon, aku pun segera memanggil dokter.

”Dokter, dokter, kenapa kakak saya, dok?”
”Ada apa?”
”Ini tubuh kakak saya kok jadi kaku kayak gini, tolong selamatkan kakak saya, dok! Ambil langkah yang terbaik, yang penting kakak saya bisa sembuh!”
”Baik kami akan mengambil langkah yang terbaik,”
”Terimakasih, dok!”


Dokter pun segera memeriksa Kak Sandra, dan tak lama kemudian dokter keluar.

”Bagaimana keadaan Kak Sandra, dok?”
”Maaf, dek, Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain!”
”Apa maksud dokter?”
”Maafkan kami, dek!Tapi sekarang kakak anda telah kembali kepada yang kuasa!”
”Apa!!” aku berlari keluar, kuambil handphoneku untuk memberi tahu keluarga Kak Sandra.
”Halo, Om Jeky! Ini saya he..he..heh Karin!” ucapku dalam percakapanku dengan Om Jeky lewat telepon selularku sambil menangis tersedu-sedu.
”Ada apa, Rin? Kenapa kamu menangis?”
”Kak Sandra, Om, Kak Sandra!”
”Ada apa dengan Sandra?”
”Sekarang Kak Sandra ada di rumah sakit”
”Kenapa Sandra, Rin?”tanya Om Jeky dengan perasaan khawatir.
“Kak Sandra om...Kak Sandra!”
“Iya...Tapi Sandra kenapa?”
“Kata dokter Kak Sandra mengidap penyakit kanker hati dan sekarang kak Sandra dinyatakan sudah...”
“Sudah apa, Rin? Jangan bilang kalau Sandra sudah meninggal!”
”Tapi, Om, Kak Sandra emang sudah meninggal dan sekarang jenazahnya ada di RS Permata Hijau,”
”Sandraaaaaaaa...!”

Dari telepon genggamku itu aku mendengar suara handphone jatuh, aku berfikir jika aku menjadi Om Jeky pasti aku akan jauh lebih sedih dari pada apa yang dirasakan Om Jeky sekarang ini.

* * *

Lama sudah aku menunggu kedatangan Om Jeky dan keluargaku, dan sekitar pukul 16.15 mereka sampai di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit Om Jeky langsung menghampiriku dan menanyakan dimana jenazah anak semata wayangnya itu.

”Di mana jenazah Sandra, Rin?”tanya Om Jeky.
”Sekarang jenazah Kak Sandra masih berada di dalam, Om!”
”Oh ya, sebelum Kak Sandra meninggal ia sempat menitipkan ini sama saya, katanya ini untuk Om!”
”Untuk saya?”
”Ya, ini Om !” ku berikan sebuah bungkusan yang dititipkan Kak Sandra kepadaku.
”Ini apa?”
”Ini amanat terakhir kak Sandra sebelum dia meninggal, Om!”
”Saya buka sekarang ya?”
”Terserah Om saja!”

Akhirnya Om Jeky pun segera membuka apa yang aku berikan. Dan didalam bungkusan yang diberikan Kak Sandra itu ada sebuah surat yang isinya adalah,

Untuk Ayahku tercinta,

Ayah, maafkan Sandra ya! Sandra tidak bermaksud untuk membohongi Ayah, tapi keadaan yang memaksa Sandra untuk berbohong. Seandainya dulu ayah tidak mengusir ibu dan tidak menelantarkan Sandra pasti semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin ayah menyesal, tapi penyesalan tidak akan mengubah takdirku, aku ingin ayah merawat ibu dengan baik. Sekarang ibu tinggal di Bumi Ayu, Jawa Barat.

Selamat tinggal ayah, aku berharap semoga ayah selalu berada di bawah lindungan-Nya. Jangan lupa sholat ya, yah!

Salam rindu,
Sandra Duaja
.

Setelah Om Jeky membaca surat itu, dia segera mengambil sesuatu yang ada di dalam bungkusan tadi selain surat itu. Ternyata di dalam bungkusan itu ada sebuah boneka yang bertuliskan nama Sandra D.

”Sandraaaaaaaaaaa! Jangan tinggalin ayah!”Teriak Om Jeky.

Setelah Om Jeky membuka bungkusan yang diberikan Kak Sandra, aku pun segera membuka Bungkusan yang diberikan Kak Sandra kepadaku.Setelah aku membukanya, ternyata isinya adalah sebuah gaun yang berwarna biru langit. Di dalam bungkusan itu juga terdapat sepucuk surat yang isinya menyatakan bahwa aku harus merawat baju itu dengan baik, karena ia berkata bahwa di dalam baju itu terdapat jiwanya yang melekat begitu kuat. Setelah aku menanyakan tentang gaun itu kepada Om Jeky, ternyata baju itu adalah baju kesayangan Kak Sandra. Aku pun berjanji kepada diriku sendiri untuk menjaga dan merawat gaun biru itu.

* * *

Kami pun segera menuju ke pemakaman untuk mengubur jenazah Kak Sandra. Setelah proses pemakamannya selesai, aku, ayah & ibu, nenek & kakek serta Om Jeky tidak segera pulang melainkan masih disana untuk melihat wajah terakhir Kak Sandra, walaupun hanya melihat tempat abadinya.

”Kak, maaafin Karin ya, nggak bisa temenin kakak disini”pintaku
”Sandra, maafin ayah, Ayah akan selalu ingat semua pesan-pesan kamu”
Setelah lama termenung, akhirnya kami pulang dengan membawa duka yang sangat berat.

* * *

Sampainya di rumah orang tuaku, aku, nenek, ayah, dan ibu berkumpul di ruang tengah.
Di ruang itulah kami mencoba menyelesaikan masalah yang kami hadapi selama ini.

“Gimana,Yah?” tanya ibu pada ayahku.
“Gimana apanya?” seru ayah.
“Kalian itu seperti anak kecil saja ya! Kalau tidak bertengkar sebentar saja apa tidak bisa?” celetus nenek.
“Yah, Bu, apa sebaiknya kalian damai saja?” pintaku.
“Iya, Ren, Mas! Itu lebih baik untuk kalian."
“Gimana, Yah?”
“Ehmmmm...Ok, sekarang ayah dan ibumu resmi daaaaamai!”
“Hore... sekarang keluarga Sanjaya udah resmi daaaaaaaaaaaaaaamai!”
“Ha...ha...ha...ha...ha...!” kami pun tertawa dengan asyiknya, walaupun masih ada sedikit rasa sedih di hati kami.

Sekarang aku sadar, ternyata masalah keluarga Kak Sandra jauh lebih sulit daripada masalah keluargaku. Tak selamanya masalah itu berat, masalah akan terasa ringan jika kita merasakan ringan, tapi masalah akan terasa berat jika kita merasakan berat. Tuhan tidak akan memberi cobaan untuk umatnya diluar batas kemampuannya.