Karya Lis Dewi NB
Pagi ini terasa begitu cerah, matahari bersinar dengan bangganya, bunga- bunga bermekaran dan burung- burung mulai bernyanyi dengan suara merdunya. Dengan langkah pelan tapi pasti, ku langkahkan kakiku menuju Sanggar Seni Kasih Bunda yang dikelola oleh ibuku. Langkah kecil kaki ku membawaku ke tempat yang aku tuju. Dengan semangat yang besar, kuarungi berhektar- hektar area kebun teh yang ada di lereng bukit, melihat hijaunya daun teh, hatiku terasa sejuk. Tanpa kusadari, ternyata aku sudah sampai di Sanggar.
“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab teman- temanku yang tengah berlatih tari tradisional.
“Eh... Mbak Nilam, baru jam 8 kok sudah kesini?” tanya Sari, salah seorang pelatih sanggar seni ini.
“Iya nih, kok tumben ya aku datang ke sanggar ini pagi- pagi sekali!”
“Oh ya mbak, tadi ada seseorang yang mencari mbak Nilam, katanya sih ada sesuatu yang ingin dibicarakan!”
“Siapa?”
“Ehmm...siapa ya?”
“Masak kamu nggak tahu sih,”
“Aku tahu, tapi sayangnya aku lupa!”
“Lupa?”
“Oh...sekarang saya ingat, kalau nggak salah namanya Raka!”
“Raka?”
“Memangnya mbak kenal sama orang yang namanya Raka?”
“Ehmmm, kayaknya sih aku pernah dengar nama itu, tapi dimana ya?”
“Yah, mbak Nilam itu bagaimana sih, nama Raka kan banyak yang punya!”
“Oh iya ya!”
“Tapi orang tadi berpesan, kalau mbak mau ketemu sama dia, mbak Nilam pergi saja ke danau yang lokasinya nggak jauh dari kebun teh!”
“Aku sih ogah nemuin orang yang belum aku kenal, tapi kalau emang bener- bener penting gimana?”
“Mbak Nilam temuin aja!”
“Ehmmm, ya deh, daripada nanti nyesel!”
Aku pun segera pergi meninggalkan Sanggar, aku masih penasaran dengan orang yang namanya Raka itu.
* * *
Aku masih menyusuri kebun teh yang asri di lereng bukit yang tadi aku lewati, hanya saja arahnya yang berbeda. Di sepanjang perjalanan, hanya nama Raka yang ada di kepalaku. Kenapa nama itu sudah tidak asing lagi bagiku, kenapa saat aku mendengar nama itu, hatiku tersentak. Apakah karena aku pernah mengenal orang yang namanya Raka atau apakah memang benar itu hanya firasatku saja.
“Ya Allah, sebenarnya apa yang aku rasakan ini, kenapa aku merasakan ada sesuatu yang beda padaku?” batinku dalam hati.
* * *
Sesampainya di danau yang tadi dikatakan Sari, aku tidak melihat ada satu orang pun yang berada di danau itu. Aku pun berteriak memanggil nama Raka, aku pikir mungkin dia ada di dekat sini.
“Raka...Kamu dimana? Ini aku, Nilam!” teriakku dengan keras.
Karena tidak mendapat jawaban, aku pun duduk di sebuah kursi tua di pinggir danau.
“Raka...kamu dimana? sebenarnya apa mau kamu?” ucapku pelan.
Tak lama kemudian, ada seorang laki- laki menghampiri aku.Aku pun tersentak kaget, siapa orang itu dan kenapa dia menghampiri aku, apakah dia Raka?
“Hai, Nil!” sapanya.
“Kamu siapa?”
“Aku...”
“Raka?” ucapku pelan.
“Sorry aku bukan Raka, aku Dimas, sahabat Raka!” katanya pelan.
“Dimas? Tapi tadi kamu bilang kan kamu Raka?”
“Nilam, maafin aku ya! Aku nggak mau kamu tahu siapa aku, aku hanya ingin menyampaikan suatu amanat dari sahabatmu Raka,”
”Maksud kamu apa? Kenapa kamu ngomomng gini sama aku?”
“Nilam, kamu masih ingat kan sama Raka?”
“Raka? Siapa Raka?”
“Kamu ini kenapa, Lam, kenapa kamu bisa lupa sama Raka, sahabat kamu sendiri? Tapi kamu inget kan sama aku?”
“Kenal sama kamu, gimana caranya aku bisa kenal sama kamu kalau kita saja baru ketemu hari ini?”
“Jadi kamu emang nggak kenal sama aku?”
“Ya iyalah, kenal darimana coba?”
“Kamu ini kenapa, Nil?”
“Kenapa apanya?”
“Ya kenapa kamu bisa lupa sama Raka, aku dan mungkin juga temen- temen kamu yang lain”
“Kamu ini kenapa sih, Dim? Kenapa kamu kayak maksa gitu sama aku,”
“Nggak! Nil, bukan itu maksud aku, aku Cuma mau kamu tahu aja kalau dulu kamu pernah sahabatan sama orang yang namanya Raka! Klau kamu nggak percaya, lihat foto ini!” pinta Raka, sambil melihatkan foto yang ia bawa.
Aku pun segera menatap foto yang Dimas maksud.
“Aduh, kepalaku pusing!”
“Kenapa, Nil?”
”Dim, sebenarnya apa yang terjadi sama aku, kenapa kepelaku terasa pening?”
“Memang kamu itu kenapa, kenapa kamu bisa lupa sama aku dan Raka?”
“Dulu, sekitar 1 tahun yang lalu aku pernah kecelakaan, dan kecelakaan itulah yang merubah hidupku!”
”Jadi kamu lupa sama aku bukan karena kamu sudah lupa sama aku, tapi karena kamu amnesia?”
“Yah seperti itulah kebenarannya!”
Tapi tak tahu kenapa aku menjadi terbayang- bayang masa laluku. Aku teringat akan suatu hal yang dulu pernah aku jalani.
* * *
Malam itu terasa gelap gulita, seperti tanpa sinar rembulan. Ku torehkan sebuah tulisan diatas buku, karena terlalu banyak PR yang harus ku kerjakan. Hari sudah malam jam sudah menunjuk ke angka 11, segera ku baringkan tubuhku ke atas ranjang. Aku berharap, semoga aku bisa bangun lebih awal agar aku bisa mengerjakan tugas untuk persiapan Baksos.
Pagi telah tiba, segera kuambil air wudhu untuk melaksanakan sholat subuh. Setelah selesai melaksanakan sholat, segera kukerjakan tugas untuk persiapan Baksos. Setelah selesai mengerjakan tugas, aku segera mandi, sarapan, lalu berangkat sekolah. Karena hari ini adalah hari pelakanaan Baksos dan aku adalah wakil OSIS aku harus segera berangkat ke sekolah untuk menyiapkan semuanya agar pelaksanaan Baksos kali ini bisa berjalan dengan lancar.
* * *
Sesampainya di sekolah ( SMAN 14 Bandung ), aku langsung berjalan menuju ruang pertemuan OSIS. Dan aku tersentak kaget ketika aku melihat teman- temanku sesama pengurus OSIS sudah duduk manis di kursi masing- masing. Ku lihat satu bangku yang kosong, dan bangku itu adalah bangkuku.
“Assalamualaikum!” ucapku.
“Waalaikumsalam!” jawab mereka serentak.
“Maaf teman- teman, aku terlambat!”
“Nggak apa- apa, Nil!” jawab Dimas, Ketua OSIS di sekolahku.
“Kalian nggak marah sama aku?”
“Ngapain harus marah, kan kamu Cuma telat 1 menit!” jawab Dimas lagi.
“Makasih ya!”
“Sama- sama, ayo duduk, kita akan segera memulai meeting kita!”
“Ok! Sekarang saya akan mempresentasikan hasil tugas yang sudah saya rangkum!”
“Silakan!”
“Terima Kasih! Teman- teman, acara bakti sosial kali ini akan kita laksanakan di sebuah sekolah kecil di perkampungan dekat Pasar Baru. Untuk menunjang pelaksanakan bakti sosial kali ini, dibutuhkan biaya sekitar Rp 5.000.000,00¬- untuk membeli peralatan sekolah, seperti buku, pen, pensil, penghapus, black board, dan yang lainnya. Dan menurut catatan dalam buku keuangan, uang yang terkumpul baru Rp 2.457.000,00-, jadi saya berharap ada salah seorang relawan yang mau menyumbangkan sebagian hartanya untuk melengkapi kekurangannya.”
“Tapi siapa, Nil?” tanya Kevin.
“Saya yang akan menambah kekurangan biaya untuk acara Baksos kali ini,” suara itu keluar dari mulut seorang lelaki yang duduk di depanku.
“Raka...! kamu yakin?” kagetku.
“Iya, saya yakin!”
“Alhamdulillah, rupanya masih ada orang yang sebaik Raka!”
Setelah semua biaya terkumpul, kita segera menuju ke tempat yang sudah kita rencanakan.
* * *
Sesampainya di sekolah kecil yang dimaksud, kita segera masuk dan memberikan sebuah peralatan sekolah untuk menunjang keberhasilan dari sekolah kecil tersebut.
“Terima kasih, mbak! semoga apa yang mbak kasih bisa bermanfaat bagi anak- anak disini!” kata salah seorang pengajar di sekolah kecil tersebut.
“Sama- sama, bu!” jawab Artini, bendahara OSIS.
Setelah lama kita ngobrol dengan para pengajar dan murid- murid di sekolah kecil itu, kita berpamitan pulang.
“Bu, kita pulang dulu ya!”
“Iya, neng. Saya berharap semoga tuhan membalas kebaikan kalian semua!”
“Aminnnnnnnnnnnnnnnnnn!”
“Wah, aminnya kok sepanjang rel kereta api jurusan Singapura sih?”
“Ah ibu, sukanya bercanda aja! mana ada sih kereta jurusan Singapura?” jawabku.
“Kami pulang dulu ya, bu?” pinta Beno, bendahara OSIS.
“Sekali lagi terimakasih ya, dek!”
“Ya, bu, sama- sama!”
* * *
Aku pun segera terbangun dari lamunanku, aku baru sadar kalau dulu aku pernah mengenal sosok seorang Raka.
“Dim, tolong sampaiin maaf aku untuk Raka ya! Aku nggak tahu kalau dulu kamu dan Raka pernah jadi temen aku!”
“Oh,i i iya!”
“Sudah, Cuma itu aja ya yang mau kamu katakan padaku?”
“Oh, nggak masih ada, tapi aku minta kamu nggak marah ya, kalau aku kasih kamu sesuatu,”
“Ya nggaklah, ngapain harus marah, kan niatnya baik!”
“Ini untuk kamu,”
“Apaan nih?”
“Ini surat terakhir yang dibuat Raka untuk kamu,”
“Aku baca ya?”
“Baca aja!”
Akupun segera membaca surat yang diberikan Dimas padaku.
Dear my best Friend, Nilam
Nilam, andai kau tahu segenap rasa sayangku padamu, sesuci perasaankuku padamu, dan seputih rangkaian kasih untukmu. Aku tahu kamu pasti sedih setelah membaca surat ini, tapi apa daya aku harus jujur.
Ku tuliskan sebuah puisi untukmu, segenap rasa sayangku untukmu hanya kau anggap sebatas seorang sahabat, tapi tidak untukku, kamu jauh lebih berharga dari apapun yang aku miliki. Jauh di lubuk hatiku aku memendam perasaan ini, tapi di relung hatiku aku tak mau membuat hatimu terluka karena diriku.
Aku berharap kamu akan terus menyimpan surat ini sampai kapanpun, karena aku akan pergi jauh darimu.Jika kau terluka setelah membaca surat ini, bakarlah surat ini karena aku yakin kamu akan jauh lebih baik dari sekarang ini.
Seharusnya dulu aku tidak meninggalkanmu sendiri, pasti persahabatan kita akan jauh lebih baik dan karna perasaanku yang tidak menentu ini kau jadi hancur.
I WILL ALWAYS MISS YOU In MY WORLD
Your best Friend
Raka
Setelah selesai membaca surat dari Raka, hatiku tersentak kaget. Aku tak pernah tahu apa maksud Raka memberiku surat itu.
“Dim, apa maksud dari surat ini, jujur aku nggak tahu apa maksudnya?”
“Kamu tahu kan kalau kamu itu pernah dekat sama Raka, dia itu menganggapmu lebih dari seorang sahabat. Tapi sebuah kecelakaan yang terjadi pada tanggal 18 Agustus 2008 merenggut semua perasaan yang ia simpan selama itu, jadi sekarang kamu tahu kan pa maksud dari surat itu?”
“Sekarang aku tahu apa yang selama ini dirasakan Raka, aku tahu kalau selama ini dia suka sama aku!”
Dimas pun segera pergi meninggalkanku sendiri di danau itu.Aku pun juga segera bergegas pulang, dengan perasaan yang nggak pernah aku rasain selama aku hidup.
Aku berjanji kalau aku akan selalu menjadi yang terbaik untuknya. Tapi aku akan berusaha mengubur semua bayangnya dan cerita tentang dirinya. Karena aku yakin, masa depanku akan jauh lebih cerah. Sekarang aku bisa hidup lebih tenang tanpa bayang- bayang Raka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar