Cerpen Karya Lis Dewi NB
Memang sudah nasibku, aku tak pernah menyangka kalau orang yang paling aku sayangi akan pergi meninggalkanku. Seandainya dia tahu apa yang kini aku rasakan pasti semuanya tidak akan berantakan seperti saat ini. “ Ya Allah! mengapa Engkau beri aku cobaan yang seberat ini, apa salahku ? Apakah karena aku tidak selalu menjalankan perintah-Mu, atau karena apa ? jawab ya Allah, aku ingin tahu apa salahku !” Pintaku dalam shalat malamku . Setelah aku selesai shalat, aku segera membaringkan tubuhku keatas ranjang. Dengan penuh harap segera kupejamkan mataku agar aku bisa cepat membawa jiwaku kea lam mimpi.
Pagi telah tiba, mentaripun telah menampakkan sinarnya. Aku terbangun dari tidur malamku, saat itu kudengar suara ibu memanggilku.
“ Len, bangun, sudah siang.Cepat mandi dan segera bantu ibu membuat martabak telur kesukaan ayahmu !” Pinta ibuku yang sedari tadi sibuk dengan pekerjaannya di dapur.
“ Ya bu !” Jawabku sambil bangun dari tempat tidurku. Akupun segera mengambil handuk untuk kubawa ke kamar mandi.Saat aku berjalan ke kamar mandi, aku melihat sesosok bayangan anak kecil lewat sekilas di depan kelopak mataku. Bulu kudukkupun merinding, tanpa kuperdulikan hal itu, akupun segera berlari menuju kamar mandi . Tapi sialnya saat aku berlari, aku terpeleset dan jatuh. Akupun sedikit meneteskan air mata, karena sepanjang hidupku baru kali ini aku merasakan sakitnya jatuh .Akupun segera mandi, kupercepat mandiku agar aku bisa membantu ibuku dengan segera. Setelah selesai mandi segera kupakai seragam OSIS kesayanganku.
“ Bu, biar saya saja yang membuat martabak telurnya, ibu ngurusin yang lain saja ! kan kalau sebuah pekerjaan dikerjakan bersama-sama bisa terasa lebih ringan, masak ibu lupa sih sama perkataan ibu sendiri ?” Pintaku pada ibu.
“ Ya nggaklah, masak ibu lupa sih sama ucapan ibu sendiri. Hati-hati, nanti kalau terkena minyak, ibu juga kan yang repot!”
“ Ok, ibuku sayang !” Sahutku dengan penuh keharuan dan semangat.
Ibuku memang sayang sekali padaku, melebihi apapun, begitu pula aku. Aku sudah menganggap ibuku seperti sahabatku, bukankah surga itu ada dibawah telapak kaki ibu ! akan selalu kujunjung tinggi petuah itu. Biarpun nanti ibuku pergi, tapi jiwanya akan selalu berada disampingku .Bagiku ibuku adalah belahan jiwaku selain dia.Setelah selesai membuat martabak telur, aku segera sarapan dan berangkat sekolah.Kupakai sepatu hitamku dan kaos kaki putihku, lalu segera kujinjing tasku untuk kubawa ke sekolah.
***
Langkah demilangkah kulalui di jalan setapak yang kini sudah menjadi jalanku menuju masa depan, mau itu masa depan yang cerah atau masa depan yang suram itu adalah sebuah pilihan yang menurutku sangat mudah untuk aku memilih salah satunya. Kuarungi jalan itu dengan penuh semangat, tanpa menghiraukan kicau-kicau burung yang sedari tadi mengajakku untuk bicara. Lama- kelamaan akhirnya akupun terbujuk juga untuk mengajak bicara seekor burung yang sedang berkicau.
“ Hai burung! Kamu tadi lihat si Novi nggak ? Aku lagi bete nih, soalnya akulagi punya masalah , boleh nggak aku curhat sama kamu ? Boleh ya, boleh kan, pastiboleh dong!”
Akupun baru sadar kalau tadi aku berangkat sudah pukul 06.30,segera kutengok jam tanganku, kulihat jarum jam sudah hampir menunjuk ke angka 7. Akupun segera melangkahkan kakiku menuju gedung sekolahku yang tercinta.
“ Aduh, gimana nih ! Semoga saja aku nggak terlambat, kalau sampai terlambat bisa-bisa aku dihukum bu Asih nih!” Keluhku dalam hati.
***
Sampainya di sekolah, aku langsung berlari menuju kelasku. Sampainya aku dikelas, kulihat teman- temanku yang sedang sibuk dengan buku yang ada di depannya, tanpa terkecuali si Novi, sahabatku.
“ Gimana kabar loe, Len?” Sapa Novi dengan senyumannya yang manis.
“ Kabarku baik-baik aja tuh,gimana dengan kamu?”
“Gue baik-baik aja kok! Aduh Len, loe tahu nggak kalau gue tadi ketemu sama Ferry, dia tuh manis banget deh sampai-sampai gue tuh nggak kedip saat ngelihat dia” Cerocos Novi dengan lagaknya yang selalu pengin terlihat manis di depan semua siswa.
“Manis mana sama OVIE WALI,apa manisnya semanis coklat atau mungkin semanis madu?” Candaku sambil tertawa kecil.
“Ah loe, Len. Loe tuh sukanya bercanda ya kayak pelawak aja !”
Setelah lama kulalui jam pelajaran Pak Har, bel tanda istirahatpun berbunyi. Pak Har yang selalu terlihat serius saat mengajar, segera pergi meninggalkan kelasku.
“ Gue mau ke Kamar mandi, loe mau ikut apa nggak ?”Tanya Novi.
“So pasti, tapi jangan lama-lama ya aku belum selesai mengerjakan tugas dari Pak Mamat!”
“Okelah kalau begitu, Yuk!”
Kamipun segera meninggalkan kelas . Setelah mengantar Novi ke kamar mandi aku segera menuju ke kelas untuk mengerjakan tugas yang belum aku selesaikan.
Setelah lama kuikuti jam pelajaran Pak Mamat, akhirnya bel pulang sekolah bunyi juga. Aku segera mengajak pulqng Novi, karena aku takut kalau aku pulang telat ibu akan memarahiku.
***
Di jalan, aku curhat soal masalahku sama Novi, Novipun juga curhat soal si Ferry.
“Len, gue kepingin jadi pacarnya Ferry, loe mau nggak bantuin gue?” Pinta Novi’
“ What? Kamu minta bantuan sama aku, memangnya apa yang bisa aku lakuin untuk kamu?”
“ Ya iyalah loe bisa, loe kan sepupunya si Ferry!”
“ Ok, kalau memang ini yang bisa aku lakuin buat kamu, tapi kamu juga harus mau kalau aku maintain bantuan?”
“ Ya lah!”
“Alah gaya kamu, kayak Si Mail aja” Candaku.
Saat aku berjalan di badan jalan, tak kusangka ada mobil dari arah yang berlawanan, mobil itu melaju dengan cepat dan menabrakku hingga tubuhku terpanting dengan keras. Air matapun menetes ditubuh Novi, dia terlihat ketakutan, diapun segera membawaku ke Rumah Sakit. Aku tak tahu apa yang terjadi kepadaku, berminggu-minggu aku koma, semua keluarga dan teman- temanku cemas dan takut kalau aku sampai meninggalkan mereka. Setelah 5 minggu aku koma, akhirnya dokter mengabarkan pada keluargaku kalau keadaanku sudah membaik dan disarankan agar keluargaku segera datang ke rumah sakit.
“ Len, kamu sudah sadar ya ? Disini ada Novi dan teman-temanmu yang lain!”Kata ibuku yang menangis tersedu-sedu melihat keadaanku yang masih lemah.
“ Maafin Leni ya bu, kalau selama Leni sakit hanya menyusahkan ibu saja, sekali lagi maafin Leni, ya!” . Aku melihat teman-temanku dengan penuh rasa kebahagiaan. Aku bahagia karena saat aku terbaring lemah di rumah sakit keluarga dan teman- temanku ada disampingku.
“Nov, maafin aku ya, karena aku nggak bisa bantuin kamu buat ngedapetin hati Ferry” Pintaku pada Novi.
“ Apa ? Jadi kamu suka sama aku, Nov !”
Ferrypun tersentak kaget mendengar ucapanku, akupun juga tak tahu kalau Ferry juga ikut menjengukku, jadi aku juga ikut- ikutan kaget saat mendengar Ferry berteriak.
“Maafin aku ya Ferr, selama ini aku udah nyembunyiin perasaanku sama kamu. Aku sudah lancang menyukaimu, sebenarnya gue pengin banget loe tahu perasaan gue, tapi gue sadar kalau cinta itu nggak bisa dipaksain !”
“ Loe nggak salah, gue yang salah . Seharusnya sudah daru dulu gue menyatakan perasaan gue pada loe, hanya saja gue takut untuk mengatakannya pada loe” Sahut Ferry
“ Loe nggak salah, Loe tahu perasaan gue saja gue udah cukup bahagia”
“ Sekarang di depan temen- temen, gue pengin loe jadi pacar gue, gue mahu loe jawab sekarang di depan temen- temen !” Pinta Ferry.
“ Gue mau nerima loe buat jadi pacar gue, tapi ada satu syarat yang harus loe lakuin buat gue”
“ Apa syaratnya, gue akan ngelakuin apa saja asal loe mau jadi pacar gue”
“Gue mau setelah loe jadi pacar gue, loe nggak boleh ngotorin hubungan kita dengan sebuah penghianatan!” Pinta Novi
“ OK, itu sih gampang, tapi loe mau kan jadi pacar gue ?”
“ Ya deh, gue mau jadi pacar loe”
“Ok, Sekarang aku sudah bisa nyatuin kalian berdua. Aku bahagia banget disaat aku terbaring lemah di rumah sakit kalian ada disampingku, itu udah sangat berharga bagiku.Sekarang aku sadar, tanpa kehendak-Nya aku pasti tidak akan bisa bertemu dengan kalian lagi. Nov, sekarang kamu sudah tahu apa masalahku? Ya inilah masalahku, aku nggak bisa menyadari betapa berharganyanya RAHMAT & HIDAYAH-NYA!”.
Setelah aku sembuh dari sakit, aku segera dibawa pulang oleh keluargaku . Sekarang aku bisa menikmati hidup tanpa beban kesalahan yang sudah aku lakuin selama ini. Aku sudah lancang menyalahkan Allah, karena aku telah menganggap kalau Allahlah yang membuat dia pergi meninggalkan aku. Tapi sekarang aku sadar kalau dia pergi karena memang sudah takdirnya, akupun segera membuang jauh- jauh pikiran kotorku itu.
Inilah arti penting dari bersyukur, tanpa-Nya kita tidak akan pernah bisa mendapat kenikmatan yang sangat berharga.Semoga apa yang selama ini aku pikirkan tidak akan pernah terjadi sama kalian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar